Selasa, 14 Juli 2015

Masih Adakah Si Boche Itu?

BOCHE! (dibaca bŏsh, bôsh) Adalah kata makian dalam bahasa Prancis bagi orang Jerman, khususnya yang menjadi tentara pada Perang Dunia I maupun Perang Dunia II. Aku baru tahu akan hal itu saat membaca La Nuit karya Elie Wiesel. 

La Nuit yang dalam bahasa Indonesia berarti "malam", memang menghadirkan suatu ruang waktu pada masa lalu yang begitu gelap, penuh darah, udara yang diliput asap, membuat pengap saat membacanya. Bagaimana tidak, aku harus menyaksikan dalam gambaran kata yang tidak terlalu dipermainkan bahasanya, anak-anak keturunan Yahudi dijadikan kayu bakar oleh rezim Hitler. Sungguh suatu "malam" yang melelahkan batin saat membacanya.

Namun demikian, saat kulihat bagaimana kini Yahudi dalam suatu negara bernama Israel, melakukan hal yang tidak jauh beda pada kisah dalam "malam" pada bangsa Palestina, semakin membuatku tak habis pikir akan yang namanya manusia, khususnya dalam pikiran kebangsaan suatu bangsa.

Adakah kini Si Boche itu adalah bangsa Yahudi, yang dahulu menyebut Boche pada bangsa Jerman?

Sungguh disayangkan.


Senin, 13 Juli 2015

Adakah Puisi Terpanjang Itu?

Illiad, barangkali merupakan puisi terpanjang karena berisikan lima belas ribu kata. Ditulis oleh Homer, berikan soal Perang Troya. Sedangkan di Indonesia adalah Puguh Sutrisno, S.Pd, penulis puisi berjudul ‘Tengku Agung Sultanah Latifah’ terdiri dari 5.600 baris dan 188 halaman. Penyerahan sertifikat MURI berlangsung di Jakarta pada 3 Februari 2010.

Adapun buku antologi puisi terpanjang dikukuhkan pada Hari Minggu, 21 Desember 2014 di Kota Bogor berhasil mencatatkan Rekor dalam kegiatan Buku Kumpulan Puisi tertebal dengan halaman sebanyak 10.000 halaman dan Tebal 99cm kepada Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Apakah itu semua dapat dikatakan puisi terpanjang? 

Sekali-sekali tidak, karena hal itu masih bisa dilampaui bila memang niat melampauinya. Lalu apakah puisi terpanjang itu? Tidak ada yang lain kecuali hidup kita masing-masing. Ia bisa menjadi puisi terpanjang di dunia, sampai kemudian dunia itu sendiri mungkin tidak ada lagi.


Minggu, 12 Juli 2015

Buku Puisi, Pelipur Lara Hati?

ADAKAH Buku puisi di rak bukumu?

Tidak diragukan lagi kalau buku puisi merupakan buku yang jarang sekali diminati, dibandingkan dengan novel ataupun cerpen. Sekalipun dalam edisi Minggu, beberapa media massa menyediakan halaman untuk puisi, mungkin hanya sebagian kecil pembacanya yang menantikan kolom tersebut.

Adapun saya pribadi, sudah sejak sebulan lalu mulai meniatkan untuk lebih mengutamakan anggaran belanja buku puisi dibandingkan buku lainnya. Walaupun begitu, tidak serta-merta setiap buku puisi saya akan beli, tidak "munafik", banyak pertimbangan yang harus saya lakukan untuk membeli suatu buku puisi. Namun begitu, pada dasarnya saya ingin memiliki semua buku puisi baik dari dalam negeri  maupun luar negeri. Baik dari penyair yang belum dikenal ataupun sudah kepalang jadi catatan sejarah.

Lalu apa hubungannya dengan buku puisi sebagai pelipur lara hati? Apakah iya begitu fungsi dari buku puisi?

Sedikit cerita yang diutarakan oleh Damhuri Muhammad tentang kakak perempuannya yang diceraikan oleh suaminya karena tidak bisa memberikan keturunan. Melihat kondisi tersebut sebagai adik Damhuri mencoba ingin berbagi utamanya mengirimkan uang untuk kakaknya tersebut, namun ditolaknya. Lantas sebagai adik dirinya bertanya, "Lalu, apa yang bisa saya bantu?" Kata kakaknya, "Kirimkan aku buku puisi. Hanya dengan itu, rasa sakitku bisa berkurang."

Sangat menakjubkan sekali. Selain saya kagum dengan kakaknya. Pun dengan keajaiban dari yang namanya buku puisi. Buku yang kalau saya mencoba tawarkan kepada rekan-rekan saya, tanggapannya sangat dingin bahkan cenderung negatif. 

Sungguh beruntung mereka yang memiliki kecintaan pada buku-buku. Maka apabila tengah patah hati--tidak selalu harus karena cinta, misalkan karena penguasa--cobalah untuk membaca buku puisi, atau mengirimi teman Anda yang tengah "berduka" itu dengan mengirimkan buku puisi. 

ADAKAH buku puisi dalam rak bukumu?

Sabtu, 11 Juli 2015

Pengalaman Undian WeChat dan Line: Mana yang Lebih Berkesan?

Aplikasi sosial media saat ini sudah menjadi sesuatu yang wajib dimiliki oleh para pengguna telepon pintar. Saya sendiri pemakai aplikasi wechat dan line. Walaupun memang tidak begitu aktif di keduanya. Kadang-kadang saya suka iseng ikutan aneka undian yang disajikan oleh keduanya. Rasanya ada bedanya.

Bagi saya pribadi, saya lebih beruntung pada aplikasi wechat dan tidak pernah sekalipun beruntung pada aplikasi line. Entah mengapa. Walaupun terus terang saja, sekalipun saya pernah menang hadiah pulsa dari wechat, proses pengiriman hadiahnya sangat lama, dan kadang molor, saat ini pun masih ada hadiah pulsa yang belum saya terima padahal saya dinyatakan mendapatkan hadiah pulsa tersebut. Memang tidak seberapa sih dan dasarnya iseng saja, namun seharusnya menjadi suatu bahan pemikiran bagi penyedia aplikasi dan penyelenggara tersebut. Bagaimana pun itu hak para pemenangnya. Adapun line, rupanya tidak hanya saja yang merasa bahwa dirinya tidak pernah beruntung, bahkan saat saya tanya melalui twitternya, beberapa ada yang menanggapi saya bahwa mengapa yang menang selalu itu-itu saja. 

Saya tidak tahu pasti siapa yang menang dan tidak dalam aplikasi medsos keduanya itu. Karena pada dasarnya hanya iseng ikutan. Tapi, kadang penasaran juga sih

Kalau Anda bagaimana kesannya pada kedua aplikasi tersebut?

Jumat, 10 Juli 2015

Mengapa Hanya Ingin Dipandang?


EKSISTENSI. Tidak ada manusia yang tidak ingin eksis. Maka segala cara mulai yang manis sampai yang pahit pun dilakoni untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Dan hal itu dapat terbukti dalam hal terpandang atau tidak. Dasarnya memang manusia ingin selalu dipandang baik oleh “yang di atas” terlebih oleh “yang di bawah”, suatu kenyataan yang memang cukup menyakitkan.

Pada masanya, Bunda Teresa pernah berkata bahwa bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa besar cinta yang kita masukkan dalam pemberian itu. Artinya memang, berbagi atau anjuran agar lebih banyak memberi daripada berusaha mendapatkan lebih banyak yang dapat diterima adalah soal seberapa ikhlas kita dalam tindakan tersebut, dan tidak sama sekali terkait eksistensi, dipandang ataupun tidak. Bahkan dalam satu riwayat, kalau bisa, jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Sekarang bagaimana? Sedikit sekali yang dapat mengambil ibrah daripada aneka peribahasa ataupun nasihat orang dulu yang memberikan pada kita suatu peninggalan yang dapat kita baca dan terapkan.

Dan sialnya, tidak hanya terjadi dalam hal bakti sosial. Terlebih dalam dunia sastra, semua berlomba-lomba ingin dipandang tidak peduli sudah berpengalaman ataupun tidak. Seolah-olah kalau ada seorang yang bergelut dalam dunia sastra menyatakan tidak ingin dipandang maka ia seorang pembohong. Dalam artian semua memang inginnya begitu. Tidak dipungkiri, saya pribadi pun kerapkali menjumpai pikiran picik seperti itu, lebih banyak lagi saya kerap berhadapan dengan mereka yang seperti itu.

Saya prihatin. 

Kamis, 09 Juli 2015

Kimia Kebahagiaan Menurut Al Ghazali


AL GHAZALI merupakan salah satu tokoh agama Islam yang populer di nusantara. Sekalipun dalam beberapa karyanya sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan beberapa kalangan. Hal itu bukan suatu yang buruk. Mengingat suatu karya tulis memang tidak selalu mutlak dan akan terus “dipertimbangkan” seusai zamannya. Beda dengan kitab suci yang senantiasa relevan.

Tapi bukan itu yang akan menjadi pokok bahasan, kali ini kita mencoba menuju jalan bahagia dengan menyimak nasihat menarik dari seseorang yang pernah ada di dunia ini. Katanya kepada kita:

“Tiap-tiap napasmu adalah permata yang tidak terniai karena tidak tergantikan dan sekali terlepas, tidak dapat dikembalikan. Jangan seperti orang-orang bodoh terperdaya yang berleha-leha karena setiap hari kekayaan mereka bertambah, padahal sisa umur mereka berkurang. Apa bagusnya harta bertambah saat umur makin sempit? Maka, merasa senanglah hanya karena bertambahnya ilmu atau amal baik karena keduanya merupakan teman terbaikmu yang akan menemanimu dalam kubur saat keluarga, harta, anak-anak, dan teman-teman tidak menyertaimu.”

Sebagaimana wasiat dari Iskandar Agung, rupanya Al Ghazali pun mengingatkan kita pada dunia yang merupakan fatamorgana yang seharusnya tidak kita kejar terus-menerus. Namun adanya kita di sini pun bukan tanpa alasan bahwa selain ladang kefanaan, bumi ini merupakan ladang ilmu dan amal, dan hanya keduanya itulah yang dapat menyelamatkan kita menuju kebahagiaan sejati di akhirat nanti. Atau setidaknya, hal itulah yang dapat membuat kita tenang dan lebih arif dan bijaksana daripada makhluk lainnya. Dan bukankah itu yang seharusnya terjadi, bukan malah menjadikan kita sebagai manusia lebih rendah daripada hewan?

Saya jadi teringat pada perkataan Shidarta Gautama, katanya, “Seorang arif bijaksana tidak akan takut kepada apapun, sekalipun kematian datang menjemput.” Mengapa tidak takut? Karena sebaik-baik bekal telah digenggam dan sebaik-baik kenyataan telah diketahui bahwa itulah jalan sebenarnya untuk keluar dari ruang fatamorgana bernama dunia ini. Tetapi jujur saja, memang sulit menjadi arif di tengah dunia yang terus mencengkram kita dengan sistem kapitalismenya.

Semoga saja kita masih punya rasa ingin untuk belajar, dan rasa semangat untuk terus istiqamah.

Rabu, 08 Juli 2015

Saat Dia Meninggal

SIAPAKAH dia yang dimaksud? Mungkin hal itu menjadi pertanyaan, apalagi “dia” dalam bahasa kita dikenal pula sebagai kata ganti. Adakah yang dimaksud adalah Tuhan? Bisa jadi, tetapi kali ini kita tidak akan membahas soal ateisme. Walaupun hal itu adalah sesuatu yang mungkin muncul di peradaban manapun. Lantas? 

Kita mencoba menggali hikmah dari kisah masa lalu seseorang. Dan kali ini dia adalah seorang ksatria. Murid salah satu filsuf ternama, Aristoteles. Menurut “legenda” dia dikenal sebagai Iskandar Agung. Apa yang menarik dari jawara penaklukkan ini selain dari masa kejayaan dan kegemilangannya menundukkan setiap wilayah yang didatanginya? Tidak ada yang lain setelah kehidupan seseorang, selain kematiannya. Maka, kita pun dapat mengambil pelajaran dari akhir hidup seseorang. 

Dikisahkan oleh Siddiqui bahwa menjelang akhir kehidupannya Iskandar Agung meminta para jendralnya untuk melaksanakan tiga wasiat yang ia sampaikan. Dan semua bawahannya pun mengiyakan titah padukanya. Adapun permintaannya, pertama Iskandar Agung memerintahkan bahwa yang membawa peti matinya kelak adalah para dokter, yang kedua Iskandar Agung menyuruh pengawalnya agar menaburkan emas, perak, permata, dan segala logam mulia lainnya di sepanjang jalan menuju pemakamannya. Dan yang terakhir, Iskandar Agung meminta agar tangannya dibiarkan menjuntai ke luar peti matinya. 

Semua yang hadir untuk menyimak wasiatnya kaget dan tidak mengerti, sehingga ada yang bertanya apa tujuannya melakukan itu. Katanya, “Aku ingin mengatakan kepada kalian semua bahwa para dokter tidak bisa memberikan kehidupan. Aku ingin mengatakan bahwa harta benda yang didapatkan sepanjang kehidupan tidak akan dapat dibawa saat kita mati, dan mengapa aku membiarkan tanganku menjuntai? Aku ingin mengatakan pada dunia bahwa sebagaimana aku lahir maka saat aku mati pun aku tidak membawa apa-apa. Sehingga orang tahu bahwa sang penakluk dunia saat meninggalnya tidak membawa apa-apa kecuali dirinya sendiri. 

Sangat menakjubkan. Tidak hanya itu, IskandarAgung pun melarang anak buahnya untuk membangun monumen di kuburannya. Sangat berbeda dengan kebanyakan para penakluk lainnya. Betapa, dunia memang fatamorgana yang tidak bisa kita gapai atau genggam selamanya. Bahkan setelah kematian semakin nyatalah bahwa kita tidak bisa apa-apa. Namun begitu, adakah yang masih mau mengambil pelajaran dari kisah orang-orang masa lalu? 

Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan saat di dunia ini dengan semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik bagi sesama. Semoga saja kita bisa istiqamah dalam kebaikan.

Selasa, 07 Juli 2015

Memberi dan Penghargaan

BULAN RAMADAN adalah bulan di mana berbagi menjadi lebih berarti, secara pahala pun konon katanya dilipatgandakan sedemikian rupa. Tidak heran kita jumpai banyak bakti sosial di mana-mana, padahal kewajibannya hanya zakat fitrah saja menurut syariat.

Bukan berarti saya anti dengan kegiatan bagi-bagi. Malah itu sangat perlu, dan kalau bisa terus berlangsung sampai bulan-bulan lainnya tidak hanya bulan Ramadan. Namun begitu, yang paling sulit dari berbagi adalah aneka pertimbangan, termasuk masalah penghargaan. Entah itu dari Tuhan, terlebih dari sesama manusia.

Ikhlas memang harus tanpa batas. Tetapi apa yang tidak bebatas di dunia ini?

Ya Allah, mudah-mudahan bukan karena suatu penghargaanlah pengharapan kami atas segala upaya berbagi yang telah dan akan dilakukan.

Amin.

Senin, 06 Juli 2015

Mengapa sekolah-sekolah di Indonesia Harus Mengajarkan Bahasa Arab?

Baru saja saya selesai membaca artikel bertajuk, Why Arabic should be taught in UK schools yang ditulis oleh Tony Calderbank. Dari situ ada suatu gambaran bahwa ke depan, bahasa Arab menjadi suatu bahasa yang mau tidak mau harus dikuasai oleh banyak manusia di dunia ini. Dan rencana bahwa bahasa Arab masuk ke kurikulum di sekolah-sekolah di Inggris sungguh sangatlah mengejutkan. Padahal, bahasa Inggris sudah termasuk bahasa internasional, yang mana di Indonesia ini, yang mayoritasnya umat Islam, dijadikan bahan ujian nasional.

Semua memang bisa berubah. Termasuk dalam hal penggunaan bahasa. Selain karena bahasa Arab adalah bahasa resmi di PBB. Ia pun dituturkan oleh banyak bangsa. Dan mau tidak mau, seharusnya semua orang Islam menguasai bahasa Arab, karena Al-Qur'an dalam bahasa Arab.

Ah, mungkin hal ini akan dianggap arabisasi. Terserah. Tetapi terus terang, saya pribadi ingin menguasai bahasa yang satu ini. Walaupun waktu SMA, sempat diajarkan, tetapi karena kurang maksimal, hasilnya memang masih asal-asalan. Betapa, seharusnya guru bahasa Arab adalah yang memang kompeten dalam bahasa Arabnya. Terlebih dalam pesantren-pesantren, tentu bahasa Arab harus menjadi alat yang kuat.

Mudah-mudahan saja, ke depan, bahasa Arab menjadi kurikulum nasional di Indonesia ini.

Minggu, 05 Juli 2015

Katakanlah, Ilmu Itu Dekat

Ada yang bilang, guru pertama manusia ialah burung gagak, yang mengajarkan bagaimana caranya menguburkan jezanah. Tetapi, apakah mungkin kita kini berguru kepada burung gagak? Hal itu masih mungkin, dan bahkan tidak hanya kepada burung gagak, segala burung dapat dijadikan guru atau sumber teladan.

Bukankah teladan terbaik adalah Muhammad Rasulullah?

Iya.

Tapi beliau sudah mati.

Benar. Dan sudah sejak awal zaman, manusia itu akhirnya akan mati. Pun makhluk bernyawa lainnya, termasuk burung gagak di dalamnya.

Lalu siapakah guru sejati itu?

Sejatinya, belajar bukanlah proses mencari-cari guru, tetapi menuai ilmu.

Dan katakanlah, ilmu itu dekat.

[]

Sabtu, 04 Juli 2015

Oh Mawar Oh

SEBUT saja Mawar. Halah. Ini bukan hendak bicara soal kebiasaan koran lampu merah, ataupun lampu petromak. Ini soal mawar di taman, yang kini mudah dijumpai di sepanjang jalan. Tidak hanya itu, kita pun dibuat lupa perlahan, bahwa mawar itu berduri.

Adakah ia tetap mawar? Sekilas iya, tetapi pemangkasan itu sendiri, apakah bukan melukai? Sedangkan dengan adanya duri apakah selalu ia dapat melukai?

Ah, mawar. 
Sayang Shakespeare telah lama pergi. Kecuali mawarnya.

Jumat, 03 Juli 2015

Yang Unggul dan Tak Terungguli

Begitulah penyataan Al-Walid bin Al-Mughirah, seorang pakar puisi dan prosa pada masanya, ketika ditanyai perihal apa yang disampaikan oleh Rasulullah, yakni Al-Qur'an.

[]

Kamis, 02 Juli 2015

Rabu, 01 Juli 2015

Ladang Amal di Musim Kemarau

AIR adalah sumber kehidupan. Air yang dalam bahasa lain disebut dengan aqua itu memang pada awalnya sesuatu yang free, sampai kemudian dengan dalih air bersih, kita pun harus membeli sumber kehidupan yang telah Allah hadirkan tersebut. Mau dikata apalagi, begitulah laju pasar industri sampai kini, dan akibat dari tidak pedulinya kita pada masalah limbah pabrik.

Nah, di Indonesia ini, sebagai suatu negara yang mendapati dua musim saja, yakni penghujan dan kemarau. Mengingat musim kemarau tahun ini (2015) termasuk ektrim, yang mana di beberapa negara suhu panas sampai menelan korban jiwa, semogalah tidak terulang lagi. Kita haruslah bersiap, terlebih pemerintah. Dan sejujurnya, dalam musim kemarau terhampar ladang amal yang luas membentang, yakni peluang untuk berbagi air kepada mereka yang membutuhkan.

Agaknya, agar semakin yakin bahwa berbagi air di musim kemarau ini sangat berpahala ialah sebagaimana pesan dari Rasulullah dalam Ibrahim Abdul Mutin, bahwa siapa yang mendapati air yang berkelimpahan tetapi enggan berbagi dengan para musafir (mereka yang butuh air) niscaya Allah akan mengazabnya. Bagi kita sebagai pengikut Kanjeng Muhammad Rasulullah, tentu sudah tidak asing lagi dengan ajaran bahwa apa-apa yang ada di alam semesta ini sebenarnya hanyalah milik Allah. Maka mutlak kita tidak boleh menjadi khalifah yang maruk. Karena khalifah memang sosok yang senang berbagi.

Tentu kita berdoa semoga Allah membukakan hati para pembisnis air agar mereka pun berbagi. Bahkan tidak ada salahnya kalau pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap sumber air bersih bagi hajat hidup segenap rakyat Indonesia ini, sungguh akan mulia kalau kita berhasil ekspor dalam artian berbagi air kepada mereka yang di Afrika sana susah mengakses air bersih, atau bagi siapapun manusia yang butuh air.

Semoga saja.

Selasa, 30 Juni 2015

Khalifah dan Bumi yang Semakin Rusak

PADA masa Muhammad Rasulullah masih hidup, Allah wahyukan tentang kondisi alam semesta ini khususnya bumi sebagai tempat berkembangnya manusia, yakni telah tampaknya kerusakan baik di daratan maupun di lautan. Dan sekarang, apa yang kita lihat ialah suatu kerusakan yang semakin nyata, dan hal itu utamanya karena ulah kita sendiri. Sangat menyedihkan.

Kita sepertinya lupa, bahwa Rasulullah pernah berkata bahwa bumi ini adalah masjid. Maka sebagaimana adab kita di masjid, maka adab di permukaan bumi mana pun haruslah baik. Kita harus memakmurkan bumi ini dalam artian menjaganya, melindunginya, melestarikannya. Apakah dengan begitu akan kontra terhadap kemajuan? Tentu tidak, justru seharusnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu seharusnya berdampak positif pula pada bumi yang kita singgahi ini.

Adakah kemudian kita berpikir?

Islam, seringkali dikatakan rahmat bagi segenap alam, apakah benar alam dalam artian lingkungan merasakan rahmat ber-Islam-nya kita?

Islam, sebagai din yang universal merupakan agama hijau, atau merujuk pada istilah Ibrahim Abdul Matin, Islam itu Greendeen, agama hijau. Maka janganlah kita menyempitkan makna khalifah di muka bumi ini sebagai kepemimpinan yang sifatnya duniawi serta serba politis. Tetapi, kita ditugasi sebagai khalifah oleh Allah adalah sebagai pelindung bumi.

Salam

Senin, 29 Juni 2015

Nasihat dari Seorang Perempuan Yahudi



Dan tentu saja, Rasulullah pun meyakini hal itu, bahwa kita tidak akan jatuh miskin hanya karena berbagi. Bahkan dalam Islam, sebagaimana digaungkan oleh beberapa pemuka agama akan menjadi penambah nikmat ataupun pengundang rezeki yang lebih.

Minggu, 28 Juni 2015

Apakah Kalian Ingin Cepat Kiamat?

SEPERTINYA manusia merupakan kiamat bagi manusia lainnya. Singkat cerita saya melihat timeline BBM, dan ada salah rekan yang membuat status seperti judul pada postingan saya kali ini:
Apakah kalian ingin cepat kiamat?
Usut punya usut, saya tanyalah kepada yang bersangkutan, dan katanya dia kesal dengan banyaknya pesan berantai soal kiamat, yang katanya akan datang bulan inilah, tahun itulah, dan seterusnya, dan hal itu tambah ngeselin karena diakhir pesannya malah seperti merantai kita, di mana harus meneruskan pesan itu sebab kalau tidak akan hadir marabahaya bahkan katanya, "Masak iyah ibu atau ayah saya akan mati kalau saya tidak meneruskan pesan itu?". Ini persis soal mengetik kata "amin" pada postingan saya yang bertajuk Motivator Paling Canggih.

Mendapati BC-an semacam itu di BBM memang sangat mengesalkan, dan saya sendiri selalu, dan tidak pernah meneruskan pesan berantai yang isinya ada tekanan ataupun intervensi yang negatif, sekalipun yang baik misalnya akan dapat pahala ini itu, saya tidak akan melanjutkan kecuali isinya memang berupa ilmu pengetahuan dan hal penting serta dirasa genting lainnya, dan harus tanpa tendensi apapun.

Saya kadang heran juga dengan mereka yang rajin nge-BC, dan kadang ya begitulah isi BC-annya padahal hanya hoax. Duh rasanya memang bikin bad mood dan inginnya tuh ngomong langsung sama yang nge-BC, tanpa pikir panjang saya kadang harus bikin status menyindir ataupun terpaksa saya delete. Hidup itu memilih bukan?

Semoga kita dijauhkan dari perbuatan semacam itu. Yakni meneruskan pesan berantai yang tidak bermutu, apalagi sampai membuat pesan berantai yang isinya hanya sampah serapah.

Amin.

Sabtu, 27 Juni 2015

Motivator Paling Canggih

BELAKANGAN ini, tampak oleh kita khususnya yang memiliki akun sosial facebook, bahwa banyak motivator bisnis maupun berkehidupan islamis (yang rata-rata memang tergolong selebritis) membuat postingan motivatif tetapi sarat intervensi, misalnya yang mengetik "amin" akan bla bla bla, yang nge-share akan bla bla bla, dan yang tidak akan sebaliknya? Ada apa dengan para motivator itu? Tengah putus asakah? Atau kata-kata mutiara tiada lagi menggerakkan kecuali ada aroma agamis walaupun sekadar ucapan "amin" dan kebiasaan berbagi (lebih tepatnya nge-share)?

Saya tidak tahu pasti apa alasannya sampai harus sebegitunya. Tetapi menarik juga saya mengutip salah satu komentar rekan di akun facebook saya yang menanggapi permasalahan tersebut. Katanya, "Namanya juga zaman mesin." Lantas saya balas, "Bujug kagak ada hatinye dong kalau mesin?" dan rekan saya yang bernama Siti Khodijah Nasution pun menanggapi dengan sangat cerdasnya:

"Pan memang. Moso kalo percaya ada hati ngapain mahal-mahal bayar hanya untuk dimotivasi? Tanya kenapa? Bukankah motivator paling canggih ya diri sendiri, hanya sayangnya bekerjakah diri sebagai motivator ulung buat diri sendiri?"

GLEK. Apa yang diungkapkan olehnya itu sangat menampar. Dahulu saya pun termasuk ke dalam kalangan yang rela hati mengeluarkan kocek untuk mengikuti seminar semacam itu. Dan ya begitulah, pada akhirnya semua kembali kepada kitanya, dan benar bahwa MOTIVATOR PALING CANGGIH ADALAH KITA SENDIRI.

TETAPI, bukankah setiap masalah orang itu kadarnya berbeda dan kita butuh orang lain selain kita dalam hidup ini? Tentu saja, kita tidak dapat hidup sendiri, problemnya memang, adakah kita sebagai makhluk sosial yang sekaligus individual ini, apakah sudah memotivasi diri sendiri agar dapat memberi teladan agar orang lain termotivasi? Kita pasti sepakat bahwa peduli artinya siap berbagi, termasuk dalam hal motivasi. Apa yang dibagikan itu, seharusnya selalu bersifat free, apalagi ini terkait motivasi, terlebih kalau terkait ilmu pengetahuan. Namun memang, tidak ada makan siang gratis sepertinya.

Maka dari itu, kita harus mulai percaya diri, dan yakin akan kekuatan personal kita masing-masing, bahwa keputusasaan harus kita lawan, dan kita dapat bangkit kalau kita sendirinya mau. Dan sekarang, saya semakin haqul yakin, bahwa kita pun harus memotivasi para motivator itu, bahwa mereka adalah motivator paling canggih bagi mereka sendiri!

Sudahkah saudara saudari memotivasi diri masing-masing? Kalau belum, jangan hubungi saya. Bukalah hati, bukalah pikiran, bacalah buku. Terakhir, jika memang saudara saudari sudah terlanjur jatuh hati dengan pemotivasi tertentu belilah bukunya saja, tidak terlalu penting mengikuti seminarnya, sekalipun dalam buku itu ada voucher sekian juta untuk ikut seminarnya. Tidak bisakah voucher itu digunakan oleh para motivator untuk modal acara seminar di lembaga-lembaga sosial?

Salam.

Jumat, 26 Juni 2015

Seperti Tidak Ada yang Lain Saja

Ketika seorang tua hendak mencalonkan dirinya menjadi presiden, ada beberapa kalangan menganjuran agar orang tua tersebut sebaiknya menjadi guru bangsa saja. Begitulah, menjadi "imam" memang tidaklah mudah, dan tidak sekadar lebih tahu saja, namun juga secara fisik haruslah prima. Nah, lagi-lagi, kali jumat ini saya berkesempatan untuk salat jumat di luar kampung sendiri, dan apa yang saya dapati? Seperti tidak ada yang lain saja!

Lebih spesifik itu seperti tidak ada pemuda saja. Duh! Begitulah, sepertinya banyak masjid di negeri ini yang seperti itu. Bukannya saya meremahkan pengetahuan kalangan tua, tetapi yang saya lihat jadinya malah rasa kasihan karena seharusnya tinggallah menjadi guru bangsa yang menjadi pendorong kalangan muda untuk menjadi imam. Ini apa yang terjadi? Jangan tanya kalau masjid seperti punya sendiri atau punya yang pemberi wakaf. Aduhai, semakin feodal saja ini permasjidan di negeri ini... Belum lagi materi jumatnya, sangat sedikit yang berwawasan progresif... semuanya tampak begitu-begitu saja... Tidak berkembang... persis seperti pengajian kaum ibu di kampung-kampung dari tahun ke tahun materinya itu lagi... taati suami masuk surga dan jangan menolak bila diajak oleh suami untuk bersenggama dan seterusnya. Seperti tidak ada materi lain saja!

Fyuuh, benar-benar ujian salat jumat itu. Tetapi tetap bersyukur ya masih mau salat jumat?! Apa mau dikata, semoga ke depan ada perubahan. Dan semoga yang pada umur panjang pun diberikan kesehatan dan kekuataan untuk menjadi imam...

Amin

Kamis, 25 Juni 2015

Bukan Rahasia Sebenarnya



Begitulah, misteri itu bernama cinta
                 Lalu yang ada di antara dua paha,
Siapa atau apa yang menjadi bagiannya?

Rabu, 24 Juni 2015

Tuhan Ada Nggak Sih?

PERTANYAAN tersebut kerapkali saya temui dalam novel yang saya baca. Dan sepertinya, secara umum hampir kebanyakan dari kita pun terkadang mengemukakan pertanyaan yang sama. Dan ini, tentu saja bukan suatu pertanyaan yang menyiratkan bahwa penanya tersebut seorang ateis. Tidak dapat dipungkiri kadang banyak situasi atau kondisi yang pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan tersebut. Dan itulah suatu ujung dari kelemahan kita bahwa keadilan-Nya itu kadang sulit untuk dimengerti, tetapi selalu ada alasan dan akibat dari segala aksi penciptaan oleh-Nya.

Dan kita yang mendengar pertanyaan semacam itu, semestinya tidak lantas menghakimi tetapi justru mencari tahu apa yang melatarbelakangi pertanyaan tersebut, untuk kemudian dapat merenungkan atau memberi suatu pemecahan, yang kadang hanya butuh dimengerti saja. Saya pribadi, pernah terbersit dalam benak saya pertanyaan semacam itu, dan itu bukan karena saya menjadi tidak percaya Dia yang Maha Esa itu hanya omong kosong, tetapi itu semacam puncak dari upaya belajar dan berpikir dalam berproses dan menghadapi sesuatu yang dihadapi. Dan pada akhirnya, selalu pada-Nya berpulang, bahwa menjadi paham itu pun memerlukan proses...

Tidak jarang, pertanyaan itu sebenarnya suatu satire, kepada kalangan mapan yang relijius, namun menganggap dirinya mutlak kudus namun abai pada elan vital Al-Qur-an.

Nah, kalau Tuan ada nggak sih?!

Selasa, 23 Juni 2015

Berbuka dengan Gembira: Awas Alpa!

Tibanya waktu berbuka bagi seorang yang tengah berpuasa adalah suatu kegembiraan, kata Muhammad Rasulullah. Sebagaimana bergembiranya kita kelak saat berjumpa dengan-Nya, Insya Allah. Tetapi, kegembiraan seringkali mengalpakan kita, sehingga kita terjerumus oleh hawa nafsu yang tidak terkontrol dengan baik, padahal puasa itu seharusnya bukan sekadar perkara menahan haus dahaga agar terhapus dosa, tetapi yang terpenting ialah agar jiwa ataupun hati dan syahwat kita terlatih untuk dapat lebih peka lagi, dan tidak malah menjadi "budak".

Nah, di saat berbuka, yakni waktu bolehnya kita makan dan minum kembali, seharusnya tidak terus nambah dugi ka wareg! alias nambah terus sampai kenyang. Justru seharusnya kita bisa lebih bisa memahami pepatah lawas yang menyatakan berhentilah makan sebelum kenyang. Di mana hal itu pun diwasiatkan oleh guru bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto kepada anaknya, yakni lereno mangan sa'durunge wareg!

Rasanya, wasiat tersebut sangat relevan dengan situasi Ramadan dan zaman kita. Dan hal itu memang tidaklah mudah, karena umumnya kita ingin makan segala kalau sudah waktu azan magrib tiba. Sampai akhirnya benar-benar kenyang. Sedangkan kalimat bijak tersebut menyuruh kita agar jangan sampai kekenyangan. Hal itu baik karena bisa melatih hati agar terus peka bahwa setidaknya kita benar-benar bisa merasai derita kaum miskin papa. Lagi pula rasa kenyang hanya bikin ngantuk dan membuat malas. Eits jangan sekali-kali mau bilang kalau tidur di siang Ramadan berpahala, sebab hidup bukan untuk tidur, bukan?

Semoga saja kita bisa benar-benar melazimkan nasihat tersebut di mana kita akan berhenti sebelum rasa kenyang tiba. Insya Allah.

Amin.


Senin, 22 Juni 2015

Nobel Perdamaian Bukan Jaminan

Alfred Nobel adalah seorang industrialis, yang namanya dijadikan penghargaan bergengsi atas permintaannya sendiri. Ya, penghargaan nobel. Selain bidang kimia, fisika, medis, dan sastra. Perdamaian menjadi "bidang" tersendiri dalam ajang tersebut.

Dimulai sejak tahun 1901, di mana ada dua orang yang diberikan penghargaan nobel perdamaian yakni Jean Henri Dunant dari Swiss dan Frédéric Passy dari Perancis. Sampai pada tahun 2014, yakni Kailash Satyarthi (India) dan Malala Yousafzai (Pakistan). Sedangkan untuk tahun 2015 akan diumumkan pada bulan November nanti. 

Tentu saja, perdamaian adalah harapan segenap bangsa di dunia ini, entah itu secara luas ataupun secara sempit. Namun begitu, sepertinya nobel perdamaian bukan jaminan bahwa situasi akan sertamerta menjadi damai. Bahkan, apa yang terjadi di Israel dan Myanmar misalnya, yang warganya ada yang memperoleh nobel perdamaian, ternyata di kedua negara tersebut sampai detik ini masih penuh polemik yang sama sekali tidak menampakkan suatu kedamaian. Maka tidak salah ketika ada yang bertanya untuk apa seseorang itu mendapatkan nobel perdamaian?

Saya kira, mewujudkan situasi yang damai adalah tugas segenap manusia di mana pun berapa, tentu butuh pelopor tetapi bukan berarti pelopor tidak akan berbuat kotor karena suatu penghargaan, manusia itu sulit ditebak bahkan yang tadinya putih bisa jadi hitam ataupun sebaliknya. Tinggallah, haruskah kita menunggu agar ada pelopor dari Indonesia yang mendapatkan nobel perdamaian barulah negeri ini akan damai? Tentu tidak! Konstitusi kita mengajar bahwa segenap bangsa adalah penunjang dan pengusung perdamaian dunia!

Walau begitu, penghargaan tersebut biarlah terus belangsung, tetapi tidak lantas kita menjadi manut saja, sebab setiap orang bisa dan dapat dikritik, dan penghargaan bukanlah suatu jaminan atas suatu tindakan di masa depan. Semoga saja, para penerima nobel perdamaian yang masih hidup dan akan memperoleh ke depannya, benar-benar berupaya mewujudkan suatu perdamaian dunia.

Amin

Minggu, 21 Juni 2015

Peristirahatan Terakhir

Raden Saleh Syarif Bustaman
Di sebuah lorong, tepi Jalan Pahlawan, Bondongan, Kota Bogor, ada pusara salah satu anak bangsa, maestro seni rupa Indonesia, siapa lagi kalau bukan Raden Saleh Syarif Bustaman. Seorang pelukis pribumi yang tersohor sampai ke negeri Eropa. Lukisannya yang terkenal tentang penangkapan Pangeran Diponegoro (atau Dipanegara?)

Sejujurnya, saya sendiri baru tahu belum lama ini bahwa Raden Saleh dikebumikan di Kota Hujan, tanah kelahiran saya. Dan itu saya dapati informasinya dari Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia edisi ke-12. Inilah salah satu rahasia kehidupan, di mana kita tidak pernah tahu pasti di mana akan berakhir, sama halnya kita tidak sempat untuk memilih di mana kita waktu itu bermula ada di dunia ini.

Terbaya adalah tempat kelahiran Raden Saleh, adanya di Semarang. Beliau lahir pada tahun 1807. Lalu laju hidup membawanya mengembara ke Eropa, sampai pada masanya kembali ke tanah air dan menetap di Batavia, sekarang Rumah Sakit Cikini, Jakarta Pusat.

Dan sebagaimana laiknya manusia pada umumnya, batas hidup pun tiba, sampai kemudian beliau diistirahatkan di kawasan Bogor Kota. Dan masa berlangsung sampai kini, sebagian dari kita mengupayakan agar beliau masuk ke daftar pahlawan nasional, semoga tidak berakhir menjadi nama jalan belaka. Bahwa seseorang mendapat gelar pahlawan adalah untuk diteladani tidak sekadar diperingati apalagi hanya menjadi nama-nama jalan yang semakin hari penuh kemacetan.

Saya setuju-setuju saja atas usulan tersebut, tetapi kali ini saya malah menerungi setelah membaca kisah perjalanan dari Raden Saleh. Kita sepertinya tidak akan pernah tahu akan beristirahat di mana pada akhirnya, tetapi hidup memberikan satu kesempatan agar kita mengisi hari-hari yang diberikan oleh Tuhan, dengan berkarya, tidak hanya sekadar "bekerja".

Sabtu, 20 Juni 2015

Bonus Langsung (Hilang), Hati-hati Beli Perdana Paket Data

Sebelumnya saya mohon maaf kepada saudara saudari kalau-kalau postingan saya kala ini nadanya sangat penuh rasa kecewa. Singkat cerita, suatu malam kala saya pulang dari suatu perjalanan saya berhenti di terminal laladon, dan karena kebetulan perut lagi lapar saya pun membeli semangkuk bubur ayam. Lepas itu, saya mendatangi satu penjual kartu perdana, dan setelah tanya-tanya saya pun beli dua kartu perdana paket data yang embel-embelnya bonus langsung sekian GB. Tanpa upaya mengaktifkan terlebih dahulu saya langsung pulang. 

Sesampainya di rumah saya mencoba satu kartu yang saya gunakan untuk keperluan akses data via laptop, dan berhasil alias sesuai dengan apa yang tertera dalam bungkus kartu perdana paket data tersebut. Selang beberapa waktu karena paketnya habis saya pun mencoba kartu yang satunya itu. Tertulis bahwa di kedua pembungkusnya itu, kalau masa berlaku atau waktu kadaluarsanya itu sampai bulan september tahun ini, artinya seharusnya masih bisa digunakan. Dan saya pun mencoba mengaktifkan dengan terlebih dahulu daftar seperti biasa ke 4444. Dan kemudian mengikuti petunjuk pengecekan bonus langsung. Oh apa daya, ternyata yang kali ini malah nihil. Bonusnya tidak ada. Dan saya disuruh daftar seperti biasa, yang berarti harus bayar lagi. Kesal. (Eh, kamu kan lagi puasa?

Saya tahu, ini mungkin bagian dari ketentuan-Nya yang sudah berlaku, tetapi tentu saja bahwa hal seperti ini benar-benar sangat mencederai. Jangankan sekian puluh ribu, kurma satu butir saja, di sana akan menjadi suatu perkara yang luar biasa. Sekalipun kita dapat mengikhlaskannya. Ya, ini adalah suatu ujian, terlebih di bulan Ramadan. Semoga saja, ke depan tidak teralami lagi, dan sepertinya memang harus minta diaktifkan langsung, atau mungkin tidak harus beli lebih dari satu, kalau sudah habis baru beli lagi. Adapun pelajaran yang dapat diambil, kita memang harus waspada, teliti, termasuk dalam hal membeli paket data. Ini agar para penjual pun tidak terperdaya oleh kegiatan yang kurang adil tersebut. 

Untung saja, masih ada wi-fi gratis di beberapa ruang publik yang saya temui, sehingga masih dapat menulis. Sekalipun kali ini, terus terang, seperti tengah dipantik. Entah bagaimana, di saat Ramadan, kita sepertinya memang mudah tersulut. Ah, mungkin di situlah ujiannya. Bukan begitu?

Jumat, 19 Juni 2015

Aku Peduli Maka Aku Muslim

Saudara saudari sekalian mungkin bertanya-tanya, mengapa saya lebih memilih judul “Aku Peduli Maka Aku Muslim” dibandingkan dengan titel “Aku Muslim Maka Aku Peduli”, bukankah berarti dengan begitu yang tidak bersyahadat pun adalah muslim? Bisa jadi, tetapi tunggu dulu, janganlah terburu-buru begitu mengambil suatu simpulan, walaupun sejujurnya untuk menjadi sosok yang peduli atau perihal kepedulian itu memang tidaklah memandang siapa kita, dari mana kita, apa ras kita, bahkan tidak menyoal apa agama kita. Jadi, seorang Yahudi atau Ateis sekali pun bisa menjadi seorang yang peduli. Nah, untuk kita, khususnya saya (dan saudara saudari sekalian?), yang mengaku muslim, sudahkah peduli? 

Menjadi peduli memang tidak harus memeluk agama Islam, tetapi pemeluk agama Islam seharusnya peduli. Mengapa? Karena kalau kita merujuk pada sejarah Muhammad Rasulullah, beliau ternyata sosok yang peduli, bahkan sebelum “dilantik” menjadi utusan Allah, dirinya sudah menjadi pribadi yang peduli. Maka tidaklah mengherankan ketika Allah menyatakan bahwa dalam figurnya itu sudah terkandung teladan yang paripurna. 

Selain itu, Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah itu, yang dikatakan oleh-Nya merupakan kitab yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa (al-Baqarah [2]: 2) rupa-rupanya sangat menonjolkan perihal kepedulian sosial. Lantas mengapa kita tidak hirau atas hal itu? Beberapa hal yang menandakan bahwa Al-Qur’an berisikan anjuran agar kita selalu peduli, misalnya tentang gagasan agar kita mengambil jalan yang sukar lagi mendaki berupa membebaskan budak—yang kini bisa kita ibaratkan dengan “memberdayakan” atau membuka suatu peluang—dan memberi makan anak yatim serta kaum yang miskin. Mengapa hal ini Allah sebut sukar? Karena memang berlawanan dengan sifat dasar manusia yang cenderung kikir serta gampang berkeluh-kesah terkait ibadah yang berdimensikan sosial, beda sekali dengan yang vertikal macam salat, haji dan yang semisalnya, saling berlomba-lomba sampai jerit tangis jelata tak didengarnya. Padahal, sangat mudah bagi Allah untuk menjungkirbalikkan—tidak hanya hati kita—pun “rezeki” kita, baik nafkah ataupun pahala yang kita harapkan. 

Tentu saja, saya sepakat bahwa dalam hal kepedulian tidak melihat jumlah, namun keikhlasannya. Namun begitu, bentuk kepedulian yang terbaik sangat dianjurkan oleh-Nya. Dan inilah pendakian yang tinggi, keikhlasan untuk berbagi. Adapun di bulan Ramadan, suatu bulan yang mana Muhammad Rasulullah pun lebih dermawan sekian kali lipat dibandingkan bulan lainnya, adalah suatu bulan pembuktian “cinta”. Tak urung hal itu memang perkara yang tidak mudah, tetapi tidak mustahil. Bukan begitu? 

Apakah harus selalu terkait harta? Pastinya itu yang utama, namun di luar itu bisa apa saja. Ilmu sendiri adalah rezeki bagi kita yang dapat kita bagikan kepada mereka yang belum mengetahuinya. Dan menulis menjadi salah satu media untuk menjadi bagian dari penyuksesan ajakan kepedulian sosial. Adapun honor yang didapatkan adalah bonus—yang bisa menggandakan kepedulian kita dengan menyisihkan sebagiannya. Dan bagi mereka yang benar-benar yakin dengan adanya akhirat, maka memang tidak terlalu perhitungan soal untung rugi yang akan didapat. Meskipun ada seorang pemuka agama yang berkata, sekian akan dapat sekian, tentu sah-sah saja, namun itu pun tidak lepas dari “Insya Allah” hakikinya. Akhirul kata, sekalipun kita berpuasa hanya karena disuruh oleh Allah, mudah-mudahan dengan begitu kita dimudahkan-Nya untuk terus dapat berbagi dengan hamba-hamba Allah lainnya. 

Amin.

Kamis, 18 Juni 2015

Iftar dan Kreativitas

Menurut Nawal El Saadawi, kreativitas itu a way of life, a philosophy in life. Bagaimana kita bersikap hidup sangat terkait dengan kreativitas. Nah, termasuk pula dalam hal iftar di bulan Ramadan, bagaimana puasa itu bisa berdampak tidak hanya pada nilai spiritual tetapi juga kesehatan maka hal itu tidak lepas dari sikap hidup kita dalam memandang diet (pola makan), dan jiwa kreatif seharusnya bisa memilah dan memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Jadi tidak sekadar kita menjadi sosok yang lain di saat puasa dan menjadi sosok yang lain lagi di saat berbuka.


Lepas dari itu, alhamdulillah, hari pertama di ramadan tahun ini terlalui. Semoga dengan iftar ini kita terhindar dari aneka penyakit tidak menular namun membahayakan. Amin.

Rabu, 17 Juni 2015

Iktikaf dengan Membaca

Salah satu anjuran untuk mengisi waktu di bulan Ramadan adalah iktikaf, yang mana menurut syariat berarti menetap atau diam di dalam masjid untuk menjalankan ibadah kepada Allah yang Esa, baik dengan berzikir, salat, membaca al-qur'an, ataupun ibadah lainnya. Dan terkait ibadah lainnya ini, sebagaimana sebelumnya saya pernah memosting soal Ramadan Bulan Membaca, maka membaca dan membaca adalah salah satu jalan untuk mengisi waktu iktikaf kita.

Tentu saja, iktikaf dengan membaca adalah suatu sarana mengisi waktu di bulan Ramadan yang sangat berkesan. Dan itu bisa dimulai tidak hanya di sepuluh hari terakhir, dan karena ada ujaran bahwa bumi adalah masjid, maka di mana pun kita bisa melakukan iktikaf pada dasarnya, hanya saja mengisi waktunya memang kita niatkan demi ibadah karena-Nya. Ah, bukankah segala kegiatan memang harus karena-Nya?

Dalam iktikaf itulah pada intinya kita tengah menikmati hidangan dari-Nya, sebagaimana dikisahkan oleh Ibn al-Qayyim tentang Ibn Taimiyyah, katanya, "Aku pernah mendapati Syaikhul Islam salat subuh lalu duduk iktikaf sambil berzikir kepada Allah sampai waktu tengah hari lalu berpaling kepadaku dan berkata, 'Inilah makananku. Seandainya aku tak mendapatkan makanan ini, hilanglah seluruh kekuatanku."

Tentu saja, mengisi waktu dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat sangatlah bagus dan ibarat nutrisi dari makanan maka segala aktivitas dalam iktikaf itu bisa berupa makanan kalau kita dapat memilih dengan jitu apa yang baik untuk kita lakukan.

Semoga saja, kita bisa mengisi waktu dengan sebaik-baiknya khususnya di bulan Ramadan. Sekalipun kadang kita mendapatkan BC berupa ajakan, "(ketika) tidur berarti ibadah."Sekalipun Allah yang menidurkan kita, janganlah kita menyengaja mengisi waktu dengan tidur!


Selasa, 16 Juni 2015

Coca-cola, Diabetes Mellitus dan Ramadan

Menurut Dr. Jamal Muhammad Elzaky dalam Fushul fi Thibb al-Rasul, menyatakan bahwa penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa puasa pada bulan Ramadan tidak berbahaya bagi penderita penyakit gula atau diabetes mellitus (suatu penyakit yang tidak menular tetapi mengancam banyak manusia di seluruh dunia), selama mereka tetap menjaga pola makan (diet) dan tetap mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. Namun begitu, penderita diabet harusnya melakukan konsultasi terlebih dahulu.

Adapun bagi kita yang tidak menderita penyakit gula sangat berlimpah penelitian terkait manfaat puasa untuk mengontrol gula dalam darah. Tetapi kepercumaan memang sangatlah menghantui di tengah banyaknya bujuk rayu media iklan agar kita lupa diri dan akhirnya asal makan dan lupa dengan diet halal lagi sehatnya.

Contoh kasus yang konyol, misalnya pada iklan berikut ini:


Sekalipun produk tersebut menawarkan zero sugar, sebaiknya hadiahkanlah minuman herbal alami kepada ibu bapak kita, agar kesehatannya lebih terjaga, dan terus membaik. Adapun soda sekalipun ada manfaatnya janganlah dijadikan kebiasaan minum minuman bersoda. Kalau sesekali mungkin diperbolehkan, tetapi dengan bertambahnya usia sebaiknya menjadi suatu perhatian lebih, dan kebiasaan baik haruslah dimulai sejak dini, sedangkan kebiasaan kurang baik sangat ada bagusnya dilakukan sejak dini.

Semoga kita bisa lebih bijak lagi, dan tidak mudah tergoda oleh iklan-iklan yang cenderung Islamis, namun "manisnya" justru racun bagi diri kita. Barakallah!

Minggu, 14 Juni 2015

Tafakur dengan Menulis

APAKAH yang biasanya dilakukan oleh seorang penulis? Tidak lain pasti menulis. Namun, yang lebih dari sekadar jawaban umum itu ialah kegiatan menafahus segala hal, baik yang kudus ataupun yang tak selalu berjalan mulus.

Tafahus jelas banyak dan hampir dilakukan oleh banyak penulis, dan tujuannya selain mencari jawab bagi dirinya sendiri pun sebagai ajang dialog ataupun diskusi bagi pembacanya, agar mencapai suatu khazanah yang lebih melimpah.

Misalnya, dengan apa yang diupayakan oleh Umar Khayyam dalam Rubai-nya adalah sebagai bentuk tafahusnya dalam rangka berfilsafat maupun bertasawuf mencapai suatu tingkatan perjalanan yang lebih jauh, dan lebih mendekatkan pada sesuatu yang seringkali menjadi bahan pemikiran, dan tak jarang malah membikin pusing. Dengan menulis, terurailah benang kusut yang membelit suatu hal yang sebenarnya mengandung benang merah di kehidupan ini.

Jadi penulis adalah peneliti? Bisa dikatakan begitu, dan tentu seorang penulis bukanlah seorang pengarang (dalam artian seorang yang asal tulis, bahkan asal copypaste!). Adapun menjadi seorang peneliti ataupun ilmuwan itu rupanya memang kehendak Tuhan, dalam artian kita disuruh memang memikirkan segala hal termasuk bergantinya siang dan malam, yang makna itu terkait dengan hukum alam, atau ilmu alam. Pun terjadi dengan hal pergantian perabadan yang silih berganti, ada hikmah dalam setiap sejarah. Namun begitu, tentu saja, tidak setiap peneliti adalah penulis, namun seorang penulis di waktu yang sama pastilah seorang yang meneliti apa yang hendak diungkapkannya terkait gagasan yang mengusik alam pikirnya.

Umar Khayyam memanglah bisa dijadikan contoh bahwa karyanya berupa rubai itu adalah suatu bentuk tafakur dengan menulis, dan sampai sekarang kita bisa merasakan hasilnya tersebut. Walaupun kini banyak yang mengira bahwa Umar Khayyam hanya seorang sastarawan atau penyair. Padahal, dirinya seorang matematikawan pun antronom. Ia tetap mencintai sastra, dan hal itu kadang lebih dekat kepada pemaksimalan proses tafakur kita.

Tidaklah berlebih kalau Pramoedya Ananta Toer sampai menyebut bahwa seseorang yang tidak mencintai sastra sekalipun seorang yang pandai dalam ilmu pengetahuan dan status kesarjanaannya tinggi, ia tetap hanya "hewan yang pandai".

Semoga saja, upaya kita tafakur dengan menulis dapat menghasilkan buah yang matang, sehingga menyegarkan dan maksimal kandungan gizinya. 

Janganlah tafakur sampai mendengkur
Urun pikiran dalam bentuk tulisan
Tafakur sepanjang masa

Sabtu, 13 Juni 2015

Baju Koko dan Ketakwaan

Seseorang mengatakan bahwa dirinya merasa tidak tenang karena belum kebeli baju koko padahal sebentar lagi tiba bulan Ramadan dan lebaran. Sontak saya pun terkejut, sebegitu pentingkah kepemilikan pakaian berupa baju koko dalam rangka mengisi dan menyambut ramadan? Sangat miris ketika saya mendengarnya, tetapi apa mau dibuat, saya tentu tidak bisa juga melarang-larang atau menyuruhnya agar membeli buku saja.

Dari hal itu, saya menyadari bahwa segala benda atribut yang dapat melekat pada diri kita di satu sisi bisa memberikan ketenangan bila termiliki dan di sisi lain akan melahirkan suatu kesakitan tersendiri kalau sampai tak tergenapi. Semakin sialnya karena kadang hal itu tanpa sadar dan pengaruh kuat dari iklan para kapitalis yang kemudian begitu masif menggiring kita untuk terjerembab pada bahaya laten fashion. Dan tidak lama berselang, seseorang itu bilang bahwa ia sudah beli dan merasa tenang.

Ya Tuhan!

Itukah gerangan ketenangan?

Sedangkan baju koko itu sendiri bukanlah sesuatu yang murni dari khazanah Islam. Tetapi sekarang, memang menjadi icon keislaman, bahkan dikatakan sebagai penanda ketakwaan seseorang. Padahal sebaik-baik pakaian adalah takwa, bukan baju koko. Saya jadi teringat akan pertanyaan Rosid, seorang tokoh utama dalam novel karya Ben Sohib berjudul The Da Peci Code, katanya, "Sejak kapan baju koko masuk Islam?"

Iya, sejak kapan? Apakah Anda tahu?

Kalau melihat dari banyak pendapat yang menyuarakan soal asal usul baju tersebut, semuanya bermuara pada hasil modifikasi umat Islam pada masanya terhadap suatu baju khas yang dipakai oleh orang Cina, yang mana kini warga keturuna Cina sendiri sudah meniggalkan baju model tersebut, dan kemudian diabadikan oleh kalangan muslim di nusantara. Sialnya, seolah-olah baju koko yang merupakan hasil ejaan dari istilah engkoh-engkoh, yang merupakan sebutan umum bagi laki-laki Cina menjadi begitu Islami. 

Itulah, dampak dari suatu budaya yang bertemu. Tetapi kadang kita sebagai manusia seringkali lupa, dan dasarnya memang pelupa. Semoga saja kita tetap lebih mengutamakan pakaian takwa, dan bukan malah sekadar pakaian Islami untuk menyambut hari yang fitri... agar beroleh puja dan puji...!


Irilah pada pakaian yang menawan
Perawan bagi surga yang merindukannya
Takwa, penutup aurat yang sebenarnya

Jumat, 12 Juni 2015

Bertali Darah

"MENAGAPA manusia tega saling bantai?"ini merupakan pertanyaan yang tidak mudah untuk diketahui jawabannya secara pasti, selain karena faktor ideologi dan ajaran banyak lagi jawaban lainnya yang tentu saja kadang tetap menyisakan suatu tanya mengapa sampai tega seperti itu? Ini pertanyaan makin menjadi mengherankan mana kala itu terjadi pada suatu penindasan, pun pada suatu eksekusi atas suatu putusan peradilan tertentu.

Untuk yang terakhir itu, kadang kita bersikap toleran dalam artian itu adalah risiko atas suatu tindakan "tidak benar" yang dilakukan oleh seseorang dan diputuskan oleh hakim dalam suatu persidangan. Jadi, hukum positif di mana pun pada akhirnya menyisakan ruang berupa hukuman, yang jika tanpa embel-embel hukum sama saja dengan "membantai". Mungkin karena maut adalah perkara Ilahiah yang rumit, akhirnya proses adanya pun terkadang pelik.

Baiklah, barangkali kita bisa memaklumi kalau itu adalah akibat dari hukum positif. Lalu bagaimana dengan penindasan, perbudakkan, dan pembantaian lainnya yang lebih banyak melanggar hukumnya meskipun dalih salah satu ataupun keduanya yang berhadapan itu adalah memperjuangkan haknya. Ah, dan kita pun lupa kalau kita bertali darah!

Ataukah sifat dasar kita memang seperti itu, yakni pemangsa sesamanya? Hal itu kadang semakin menjadi dan tampak manakala di bioskop ada film yang isinya saling bantai, "kita" begitu asyik menikmatinya dan berujar filmnya bagus, dan lupa kalau itu adalah suatu penampakkan dari terceraiberainya pertalian darah akibat penumpahan darah.

Saya kadang sedih sehabis nonton film demikin itu, mengapa dan mengapa, terus pertanyaan mengapa bermunculan di benak saya. Mengherankan memang. Semoga saja, kita tidak termasuk ke bagian yang justru turut menumpahkan darah, sebisanya tidak, semoga selalu ada jalan lain untuk kemaslahatan tanpa harus ada korban jiwa.

Sebagai penutup dan penegas bahwa kita bertali darah, berikut ini ada kisah menarik dari Anthony de Mello dalam Talking Flight: A Book of Story Meditations (1990):

Kapan malam telah berakhir
dan hari baru telah dimulai?

Ketika Anda menatap wajah setiap laki-laki dan mengenalinya sebagai saudaramu
Ketika Anda menatap wajah setiap perempuan dan mengenalinya sebagai saudarimu
Kalau Anda tidak dapat melakukan hal ini, entah hari menunjukkan pukul berapa menurut perhitungan matahari, hari masih tetaplah malam.

Kamis, 11 Juni 2015

Apa yang Didapat Selain Citra dari Kamera?

buat gie...

Yogyakarta, 27 Juli 1969, kaupernah menulis tentang kenangan di pantai Parangtritis, "Soe, apa yang sedang kaupikirkan?", kini pertanyaan semacam itu semakin sering menjumpaiku dan banyak orang Indonesia lainnya, dan itu ulahnya Zack. Tetapi kita di sini masih saja dibuat pusing dengan pertanyaan tersebut, dan belum dapat memperoleh jawaban yang memuaskan, sampai setiap hari, seolah-olah terus diajak bermain-main dengan pertanyaan, "Apa yang sedang Anda pikirkan?"

Kalau kaumasih ada, mungkin akan sangat menarik mengetahui apa saja yang kemudian kaupikirkan. Tetapi bukan itu inti yang hendak kusampaikan kali ini, Gie. Kali ini aku ingin sedikit menyoroti tentang fenomena orang Indonesia di puncak gunung. Sudah menjadi rahasia umum kalau kaumenyukai yang namanya naik gunung, dan dari sana acapkali kaumemikirkan banyak hal, termasuk kebesaran manusia ataupun tentang bagaimana seharusnya kaumengisi hidup. Kini, banyak remaja, bahkan wong tua pun tidak sedikit yang menyukai aktivitas naik gunung.

Di satu sisi aku gembira karena dengan begitu semakin banyak yang menghargai alam, dan back to nature. Di sisi lain, seolah-olah kegiatan naik gunung itu hanya untuk ajang pengabadian eksistensi diri pribadi, kesenangan, dan pelbagai bentuk pelarian. Dan ujung-ujungnya adalah hanya citra dari kamera.

Sekalipun selalu dalam rangka mensyukuri karunia Ilahi, tetapi setelahnya hanyalah cerita "aku pernah dan ini buktinya". Hal itu semakin mengemuka dengan banyaknya media pendukung citra lainnya. Bukankah seharusnya tidak sekadar itu, Gie?

Walaupun aku percaya bahwa dalam satu imaji bisa tersaji berjuta puisi, tetapi alangkah eloknya kalau disertai tulisan hasil pemikiran, permenungan di alam raya tersebut. Ah, siapa aku ini, Gie?

"hidup adalah soal keberanian,
menghadapi jang tanda tanja
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah, hadapilah"

Soe Hok Gie, 19 Juli 1966

Betul Gie, citra memang bukan sekadar dunia tanpa kata, jika saja kita bersedia untuk "mendalaminya". Memahami memang hal tersulit sehingga banyak penolakan maupun pelarian. Alangkah beruntung memang mati muda, kalau saja itu dalam "situasi" sepertimu, Gie. Sayangnya kini, banyak yang cari mati untuk eksistensi yang tak berarti. Sekalipun aku percaya bahwa tak ada yang benar sia-sia, namun mengapa tidak kita berbuat untuk yang (jauh) lebih bermakna.

Ah, tiba-tiba saja tanya itu muncul kembali, Gie!


"Sup, apa yang sedang kaupikirkan?"
Aku sedang memikirkan tentang pesan seorang kawan
bahwa keindahan sejati tidak dapat "diabadikan"
L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire