Selasa, 14 Juli 2015

Masih Adakah Si Boche Itu?

BOCHE! (dibaca bŏsh, bôsh) Adalah kata makian dalam bahasa Prancis bagi orang Jerman, khususnya yang menjadi tentara pada Perang Dunia I maupun Perang Dunia II. Aku baru tahu akan hal itu saat membaca La Nuit karya Elie Wiesel. 

La Nuit yang dalam bahasa Indonesia berarti "malam", memang menghadirkan suatu ruang waktu pada masa lalu yang begitu gelap, penuh darah, udara yang diliput asap, membuat pengap saat membacanya. Bagaimana tidak, aku harus menyaksikan dalam gambaran kata yang tidak terlalu dipermainkan bahasanya, anak-anak keturunan Yahudi dijadikan kayu bakar oleh rezim Hitler. Sungguh suatu "malam" yang melelahkan batin saat membacanya.

Namun demikian, saat kulihat bagaimana kini Yahudi dalam suatu negara bernama Israel, melakukan hal yang tidak jauh beda pada kisah dalam "malam" pada bangsa Palestina, semakin membuatku tak habis pikir akan yang namanya manusia, khususnya dalam pikiran kebangsaan suatu bangsa.

Adakah kini Si Boche itu adalah bangsa Yahudi, yang dahulu menyebut Boche pada bangsa Jerman?

Sungguh disayangkan.


Senin, 13 Juli 2015

Adakah Puisi Terpanjang Itu?

Illiad, barangkali merupakan puisi terpanjang karena berisikan lima belas ribu kata. Ditulis oleh Homer, berikan soal Perang Troya. Sedangkan di Indonesia adalah Puguh Sutrisno, S.Pd, penulis puisi berjudul ‘Tengku Agung Sultanah Latifah’ terdiri dari 5.600 baris dan 188 halaman. Penyerahan sertifikat MURI berlangsung di Jakarta pada 3 Februari 2010.

Adapun buku antologi puisi terpanjang dikukuhkan pada Hari Minggu, 21 Desember 2014 di Kota Bogor berhasil mencatatkan Rekor dalam kegiatan Buku Kumpulan Puisi tertebal dengan halaman sebanyak 10.000 halaman dan Tebal 99cm kepada Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Apakah itu semua dapat dikatakan puisi terpanjang? 

Sekali-sekali tidak, karena hal itu masih bisa dilampaui bila memang niat melampauinya. Lalu apakah puisi terpanjang itu? Tidak ada yang lain kecuali hidup kita masing-masing. Ia bisa menjadi puisi terpanjang di dunia, sampai kemudian dunia itu sendiri mungkin tidak ada lagi.


Minggu, 12 Juli 2015

Buku Puisi, Pelipur Lara Hati?

ADAKAH Buku puisi di rak bukumu?

Tidak diragukan lagi kalau buku puisi merupakan buku yang jarang sekali diminati, dibandingkan dengan novel ataupun cerpen. Sekalipun dalam edisi Minggu, beberapa media massa menyediakan halaman untuk puisi, mungkin hanya sebagian kecil pembacanya yang menantikan kolom tersebut.

Adapun saya pribadi, sudah sejak sebulan lalu mulai meniatkan untuk lebih mengutamakan anggaran belanja buku puisi dibandingkan buku lainnya. Walaupun begitu, tidak serta-merta setiap buku puisi saya akan beli, tidak "munafik", banyak pertimbangan yang harus saya lakukan untuk membeli suatu buku puisi. Namun begitu, pada dasarnya saya ingin memiliki semua buku puisi baik dari dalam negeri  maupun luar negeri. Baik dari penyair yang belum dikenal ataupun sudah kepalang jadi catatan sejarah.

Lalu apa hubungannya dengan buku puisi sebagai pelipur lara hati? Apakah iya begitu fungsi dari buku puisi?

Sedikit cerita yang diutarakan oleh Damhuri Muhammad tentang kakak perempuannya yang diceraikan oleh suaminya karena tidak bisa memberikan keturunan. Melihat kondisi tersebut sebagai adik Damhuri mencoba ingin berbagi utamanya mengirimkan uang untuk kakaknya tersebut, namun ditolaknya. Lantas sebagai adik dirinya bertanya, "Lalu, apa yang bisa saya bantu?" Kata kakaknya, "Kirimkan aku buku puisi. Hanya dengan itu, rasa sakitku bisa berkurang."

Sangat menakjubkan sekali. Selain saya kagum dengan kakaknya. Pun dengan keajaiban dari yang namanya buku puisi. Buku yang kalau saya mencoba tawarkan kepada rekan-rekan saya, tanggapannya sangat dingin bahkan cenderung negatif. 

Sungguh beruntung mereka yang memiliki kecintaan pada buku-buku. Maka apabila tengah patah hati--tidak selalu harus karena cinta, misalkan karena penguasa--cobalah untuk membaca buku puisi, atau mengirimi teman Anda yang tengah "berduka" itu dengan mengirimkan buku puisi. 

ADAKAH buku puisi dalam rak bukumu?

Sabtu, 11 Juli 2015

Pengalaman Undian WeChat dan Line: Mana yang Lebih Berkesan?

Aplikasi sosial media saat ini sudah menjadi sesuatu yang wajib dimiliki oleh para pengguna telepon pintar. Saya sendiri pemakai aplikasi wechat dan line. Walaupun memang tidak begitu aktif di keduanya. Kadang-kadang saya suka iseng ikutan aneka undian yang disajikan oleh keduanya. Rasanya ada bedanya.

Bagi saya pribadi, saya lebih beruntung pada aplikasi wechat dan tidak pernah sekalipun beruntung pada aplikasi line. Entah mengapa. Walaupun terus terang saja, sekalipun saya pernah menang hadiah pulsa dari wechat, proses pengiriman hadiahnya sangat lama, dan kadang molor, saat ini pun masih ada hadiah pulsa yang belum saya terima padahal saya dinyatakan mendapatkan hadiah pulsa tersebut. Memang tidak seberapa sih dan dasarnya iseng saja, namun seharusnya menjadi suatu bahan pemikiran bagi penyedia aplikasi dan penyelenggara tersebut. Bagaimana pun itu hak para pemenangnya. Adapun line, rupanya tidak hanya saja yang merasa bahwa dirinya tidak pernah beruntung, bahkan saat saya tanya melalui twitternya, beberapa ada yang menanggapi saya bahwa mengapa yang menang selalu itu-itu saja. 

Saya tidak tahu pasti siapa yang menang dan tidak dalam aplikasi medsos keduanya itu. Karena pada dasarnya hanya iseng ikutan. Tapi, kadang penasaran juga sih

Kalau Anda bagaimana kesannya pada kedua aplikasi tersebut?

Jumat, 10 Juli 2015

Mengapa Hanya Ingin Dipandang?


EKSISTENSI. Tidak ada manusia yang tidak ingin eksis. Maka segala cara mulai yang manis sampai yang pahit pun dilakoni untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Dan hal itu dapat terbukti dalam hal terpandang atau tidak. Dasarnya memang manusia ingin selalu dipandang baik oleh “yang di atas” terlebih oleh “yang di bawah”, suatu kenyataan yang memang cukup menyakitkan.

Pada masanya, Bunda Teresa pernah berkata bahwa bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa besar cinta yang kita masukkan dalam pemberian itu. Artinya memang, berbagi atau anjuran agar lebih banyak memberi daripada berusaha mendapatkan lebih banyak yang dapat diterima adalah soal seberapa ikhlas kita dalam tindakan tersebut, dan tidak sama sekali terkait eksistensi, dipandang ataupun tidak. Bahkan dalam satu riwayat, kalau bisa, jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Sekarang bagaimana? Sedikit sekali yang dapat mengambil ibrah daripada aneka peribahasa ataupun nasihat orang dulu yang memberikan pada kita suatu peninggalan yang dapat kita baca dan terapkan.

Dan sialnya, tidak hanya terjadi dalam hal bakti sosial. Terlebih dalam dunia sastra, semua berlomba-lomba ingin dipandang tidak peduli sudah berpengalaman ataupun tidak. Seolah-olah kalau ada seorang yang bergelut dalam dunia sastra menyatakan tidak ingin dipandang maka ia seorang pembohong. Dalam artian semua memang inginnya begitu. Tidak dipungkiri, saya pribadi pun kerapkali menjumpai pikiran picik seperti itu, lebih banyak lagi saya kerap berhadapan dengan mereka yang seperti itu.

Saya prihatin. 

Kamis, 09 Juli 2015

Kimia Kebahagiaan Menurut Al Ghazali


AL GHAZALI merupakan salah satu tokoh agama Islam yang populer di nusantara. Sekalipun dalam beberapa karyanya sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan beberapa kalangan. Hal itu bukan suatu yang buruk. Mengingat suatu karya tulis memang tidak selalu mutlak dan akan terus “dipertimbangkan” seusai zamannya. Beda dengan kitab suci yang senantiasa relevan.

Tapi bukan itu yang akan menjadi pokok bahasan, kali ini kita mencoba menuju jalan bahagia dengan menyimak nasihat menarik dari seseorang yang pernah ada di dunia ini. Katanya kepada kita:

“Tiap-tiap napasmu adalah permata yang tidak terniai karena tidak tergantikan dan sekali terlepas, tidak dapat dikembalikan. Jangan seperti orang-orang bodoh terperdaya yang berleha-leha karena setiap hari kekayaan mereka bertambah, padahal sisa umur mereka berkurang. Apa bagusnya harta bertambah saat umur makin sempit? Maka, merasa senanglah hanya karena bertambahnya ilmu atau amal baik karena keduanya merupakan teman terbaikmu yang akan menemanimu dalam kubur saat keluarga, harta, anak-anak, dan teman-teman tidak menyertaimu.”

Sebagaimana wasiat dari Iskandar Agung, rupanya Al Ghazali pun mengingatkan kita pada dunia yang merupakan fatamorgana yang seharusnya tidak kita kejar terus-menerus. Namun adanya kita di sini pun bukan tanpa alasan bahwa selain ladang kefanaan, bumi ini merupakan ladang ilmu dan amal, dan hanya keduanya itulah yang dapat menyelamatkan kita menuju kebahagiaan sejati di akhirat nanti. Atau setidaknya, hal itulah yang dapat membuat kita tenang dan lebih arif dan bijaksana daripada makhluk lainnya. Dan bukankah itu yang seharusnya terjadi, bukan malah menjadikan kita sebagai manusia lebih rendah daripada hewan?

Saya jadi teringat pada perkataan Shidarta Gautama, katanya, “Seorang arif bijaksana tidak akan takut kepada apapun, sekalipun kematian datang menjemput.” Mengapa tidak takut? Karena sebaik-baik bekal telah digenggam dan sebaik-baik kenyataan telah diketahui bahwa itulah jalan sebenarnya untuk keluar dari ruang fatamorgana bernama dunia ini. Tetapi jujur saja, memang sulit menjadi arif di tengah dunia yang terus mencengkram kita dengan sistem kapitalismenya.

Semoga saja kita masih punya rasa ingin untuk belajar, dan rasa semangat untuk terus istiqamah.

Rabu, 08 Juli 2015

Saat Dia Meninggal

SIAPAKAH dia yang dimaksud? Mungkin hal itu menjadi pertanyaan, apalagi “dia” dalam bahasa kita dikenal pula sebagai kata ganti. Adakah yang dimaksud adalah Tuhan? Bisa jadi, tetapi kali ini kita tidak akan membahas soal ateisme. Walaupun hal itu adalah sesuatu yang mungkin muncul di peradaban manapun. Lantas? 

Kita mencoba menggali hikmah dari kisah masa lalu seseorang. Dan kali ini dia adalah seorang ksatria. Murid salah satu filsuf ternama, Aristoteles. Menurut “legenda” dia dikenal sebagai Iskandar Agung. Apa yang menarik dari jawara penaklukkan ini selain dari masa kejayaan dan kegemilangannya menundukkan setiap wilayah yang didatanginya? Tidak ada yang lain setelah kehidupan seseorang, selain kematiannya. Maka, kita pun dapat mengambil pelajaran dari akhir hidup seseorang. 

Dikisahkan oleh Siddiqui bahwa menjelang akhir kehidupannya Iskandar Agung meminta para jendralnya untuk melaksanakan tiga wasiat yang ia sampaikan. Dan semua bawahannya pun mengiyakan titah padukanya. Adapun permintaannya, pertama Iskandar Agung memerintahkan bahwa yang membawa peti matinya kelak adalah para dokter, yang kedua Iskandar Agung menyuruh pengawalnya agar menaburkan emas, perak, permata, dan segala logam mulia lainnya di sepanjang jalan menuju pemakamannya. Dan yang terakhir, Iskandar Agung meminta agar tangannya dibiarkan menjuntai ke luar peti matinya. 

Semua yang hadir untuk menyimak wasiatnya kaget dan tidak mengerti, sehingga ada yang bertanya apa tujuannya melakukan itu. Katanya, “Aku ingin mengatakan kepada kalian semua bahwa para dokter tidak bisa memberikan kehidupan. Aku ingin mengatakan bahwa harta benda yang didapatkan sepanjang kehidupan tidak akan dapat dibawa saat kita mati, dan mengapa aku membiarkan tanganku menjuntai? Aku ingin mengatakan pada dunia bahwa sebagaimana aku lahir maka saat aku mati pun aku tidak membawa apa-apa. Sehingga orang tahu bahwa sang penakluk dunia saat meninggalnya tidak membawa apa-apa kecuali dirinya sendiri. 

Sangat menakjubkan. Tidak hanya itu, IskandarAgung pun melarang anak buahnya untuk membangun monumen di kuburannya. Sangat berbeda dengan kebanyakan para penakluk lainnya. Betapa, dunia memang fatamorgana yang tidak bisa kita gapai atau genggam selamanya. Bahkan setelah kematian semakin nyatalah bahwa kita tidak bisa apa-apa. Namun begitu, adakah yang masih mau mengambil pelajaran dari kisah orang-orang masa lalu? 

Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan saat di dunia ini dengan semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik bagi sesama. Semoga saja kita bisa istiqamah dalam kebaikan.

Selasa, 07 Juli 2015

Memberi dan Penghargaan

BULAN RAMADAN adalah bulan di mana berbagi menjadi lebih berarti, secara pahala pun konon katanya dilipatgandakan sedemikian rupa. Tidak heran kita jumpai banyak bakti sosial di mana-mana, padahal kewajibannya hanya zakat fitrah saja menurut syariat.

Bukan berarti saya anti dengan kegiatan bagi-bagi. Malah itu sangat perlu, dan kalau bisa terus berlangsung sampai bulan-bulan lainnya tidak hanya bulan Ramadan. Namun begitu, yang paling sulit dari berbagi adalah aneka pertimbangan, termasuk masalah penghargaan. Entah itu dari Tuhan, terlebih dari sesama manusia.

Ikhlas memang harus tanpa batas. Tetapi apa yang tidak bebatas di dunia ini?

Ya Allah, mudah-mudahan bukan karena suatu penghargaanlah pengharapan kami atas segala upaya berbagi yang telah dan akan dilakukan.

Amin.

Senin, 06 Juli 2015

Mengapa sekolah-sekolah di Indonesia Harus Mengajarkan Bahasa Arab?

Baru saja saya selesai membaca artikel bertajuk, Why Arabic should be taught in UK schools yang ditulis oleh Tony Calderbank. Dari situ ada suatu gambaran bahwa ke depan, bahasa Arab menjadi suatu bahasa yang mau tidak mau harus dikuasai oleh banyak manusia di dunia ini. Dan rencana bahwa bahasa Arab masuk ke kurikulum di sekolah-sekolah di Inggris sungguh sangatlah mengejutkan. Padahal, bahasa Inggris sudah termasuk bahasa internasional, yang mana di Indonesia ini, yang mayoritasnya umat Islam, dijadikan bahan ujian nasional.

Semua memang bisa berubah. Termasuk dalam hal penggunaan bahasa. Selain karena bahasa Arab adalah bahasa resmi di PBB. Ia pun dituturkan oleh banyak bangsa. Dan mau tidak mau, seharusnya semua orang Islam menguasai bahasa Arab, karena Al-Qur'an dalam bahasa Arab.

Ah, mungkin hal ini akan dianggap arabisasi. Terserah. Tetapi terus terang, saya pribadi ingin menguasai bahasa yang satu ini. Walaupun waktu SMA, sempat diajarkan, tetapi karena kurang maksimal, hasilnya memang masih asal-asalan. Betapa, seharusnya guru bahasa Arab adalah yang memang kompeten dalam bahasa Arabnya. Terlebih dalam pesantren-pesantren, tentu bahasa Arab harus menjadi alat yang kuat.

Mudah-mudahan saja, ke depan, bahasa Arab menjadi kurikulum nasional di Indonesia ini.

Minggu, 05 Juli 2015

Katakanlah, Ilmu Itu Dekat

Ada yang bilang, guru pertama manusia ialah burung gagak, yang mengajarkan bagaimana caranya menguburkan jezanah. Tetapi, apakah mungkin kita kini berguru kepada burung gagak? Hal itu masih mungkin, dan bahkan tidak hanya kepada burung gagak, segala burung dapat dijadikan guru atau sumber teladan.

Bukankah teladan terbaik adalah Muhammad Rasulullah?

Iya.

Tapi beliau sudah mati.

Benar. Dan sudah sejak awal zaman, manusia itu akhirnya akan mati. Pun makhluk bernyawa lainnya, termasuk burung gagak di dalamnya.

Lalu siapakah guru sejati itu?

Sejatinya, belajar bukanlah proses mencari-cari guru, tetapi menuai ilmu.

Dan katakanlah, ilmu itu dekat.

[]

Sabtu, 04 Juli 2015

Oh Mawar Oh

SEBUT saja Mawar. Halah. Ini bukan hendak bicara soal kebiasaan koran lampu merah, ataupun lampu petromak. Ini soal mawar di taman, yang kini mudah dijumpai di sepanjang jalan. Tidak hanya itu, kita pun dibuat lupa perlahan, bahwa mawar itu berduri.

Adakah ia tetap mawar? Sekilas iya, tetapi pemangkasan itu sendiri, apakah bukan melukai? Sedangkan dengan adanya duri apakah selalu ia dapat melukai?

Ah, mawar. 
Sayang Shakespeare telah lama pergi. Kecuali mawarnya.

Jumat, 03 Juli 2015

Yang Unggul dan Tak Terungguli

Begitulah penyataan Al-Walid bin Al-Mughirah, seorang pakar puisi dan prosa pada masanya, ketika ditanyai perihal apa yang disampaikan oleh Rasulullah, yakni Al-Qur'an.

[]

Kamis, 02 Juli 2015

Rabu, 01 Juli 2015

Ladang Amal di Musim Kemarau

AIR adalah sumber kehidupan. Air yang dalam bahasa lain disebut dengan aqua itu memang pada awalnya sesuatu yang free, sampai kemudian dengan dalih air bersih, kita pun harus membeli sumber kehidupan yang telah Allah hadirkan tersebut. Mau dikata apalagi, begitulah laju pasar industri sampai kini, dan akibat dari tidak pedulinya kita pada masalah limbah pabrik.

Nah, di Indonesia ini, sebagai suatu negara yang mendapati dua musim saja, yakni penghujan dan kemarau. Mengingat musim kemarau tahun ini (2015) termasuk ektrim, yang mana di beberapa negara suhu panas sampai menelan korban jiwa, semogalah tidak terulang lagi. Kita haruslah bersiap, terlebih pemerintah. Dan sejujurnya, dalam musim kemarau terhampar ladang amal yang luas membentang, yakni peluang untuk berbagi air kepada mereka yang membutuhkan.

Agaknya, agar semakin yakin bahwa berbagi air di musim kemarau ini sangat berpahala ialah sebagaimana pesan dari Rasulullah dalam Ibrahim Abdul Mutin, bahwa siapa yang mendapati air yang berkelimpahan tetapi enggan berbagi dengan para musafir (mereka yang butuh air) niscaya Allah akan mengazabnya. Bagi kita sebagai pengikut Kanjeng Muhammad Rasulullah, tentu sudah tidak asing lagi dengan ajaran bahwa apa-apa yang ada di alam semesta ini sebenarnya hanyalah milik Allah. Maka mutlak kita tidak boleh menjadi khalifah yang maruk. Karena khalifah memang sosok yang senang berbagi.

Tentu kita berdoa semoga Allah membukakan hati para pembisnis air agar mereka pun berbagi. Bahkan tidak ada salahnya kalau pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap sumber air bersih bagi hajat hidup segenap rakyat Indonesia ini, sungguh akan mulia kalau kita berhasil ekspor dalam artian berbagi air kepada mereka yang di Afrika sana susah mengakses air bersih, atau bagi siapapun manusia yang butuh air.

Semoga saja.
L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire