Senin, 24 Oktober 2016

Warisan by Tsitsi V. Himunyanga - Phiri



Novel Warisan ISBN 979-461-230-8



Aku sekarang istri Saul Mudenda.
Moya Mweemba tidak ada lagi.  

Dia duduk dengan gelisah, di muka pengadilan. Menanti sebuah putusan, atas perkara yang diajukannya. Dia seorang perempuan, bernama Moya Mweemba, namun karena sudah menikah maka ia dikenal dengan embel-embel nama suaminya—sebagaimana kini kita anggap lazim pula, menjadi Moya Mudenda.

Tetapi,


saat itu dia berstatus sebagai janda, karena suaminya meninggal dunia. Tanpa itu pun, Moya sebenarnya sudah sangat menderita, ditambah lagi kini dirinya harus sendirian menghadapi kenyataan yang dihasilkan oleh suatu “kebiasaan” dalam masyarakatnya. Dan hal itu, benar-benar dianggap tidak adil menurutnya. Bagaimana mungkin, seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya tidak mendapatkan warisan sedikit pun, padahal ia—saat suaminya masih hidup—juga bekerja, dan malah lebih berpenghasilan daripada suaminya?

Ya! Cerita ini menyoal gugatan seorang perempuan, yang menikah muda, punya anak yang cukup banyak, namun pada akhirnya tidak memperoleh apapun bahkan untuk sekadar menyambung hidup. Parahnya lagi, sebelum harta, tanah, dan rumah diambil oleh pihak keluarga suaminya, Moya diharuskan tidur dengan saudara suaminya dengan dalih “pembersihan” agar tidak ada setan yang menempel pada diri Moya. Apakah dia tidak bisa menolak? Moya jelas mempertanyakan hal yang yang sangat menghinakan dirinya itu. Tetapi itu tidak membuatnya menyerah untuk menggugat perkara warisan ke muka pengadilan. 

Dengan penuh keyakinan, Moya bertekad, “Aku korbankan seluruh perasaanku demi anak-anakku, anak-anak yang telah kulahirkan di dunia dan mempunyai hak untuk hidup lebih baik daripada hidupku sendiri. Aku bernyali besar agar memperoleh segala kesempatan yang tidak pernah kuperoleh. Bahkan dengan segala kesulitan keuangan yang kami alami, aku bersikukuh agar mereka harus sekolah—baik laki-laki maupun perempuan.” (hlm. 16)

Namun pada kenyataannya, tidak mudah mendidik anak manusia. Apalagi mendidik seorang anak perempuan yang berarti mendidik satu keluarga—sebab kelak dirinya akan menjadi ibu. Moya mendapati kenyataan bahwa dua putrinya tidak seperti yang diharapkan sekalipun kemudian mereka mau saja disekolahkan.

Salah satu anak perempuannya malah bersukacita menjadi gundik salah satu laki-laki yang sudah beristri. Anaknya lainnya, malah berpendapat bahwa perempuan tidak seharusnya seperti  Moya, bahwa tugas utamanya hanyalah menjadi pelayan tanpa boleh sedikit pun bersuara. Keduanya jelas-jelas membuat sakit hati pada Moya. Namun, perjuangan seorang ibu memang tidak ada habisnya.

Sampai kemudian sampai pada kenyataan yang menggambarkan bahwa perempuan sering tidak sadar akan “kepolosannya”, sehingga tidak sedikit yang bersuka cita menjadi istri muda tanpa sadar melukai istri tua. Dan barulah memahami sengsaranya dimadu ketika suaminya itu ingin menikah lagi. Upaya-upaya Moya untuk menyadarkan anak-anak perempuannya pada akhirnya berhasil, tetapi itu pun setelah melewati banyak kasus yang memilukan.

Di muka sidang, Moya dengan jerih payahnya berhasil mendapatkan pengacara, dan beberapa anaknya mendampingi. Tetapi, akankah pengadilan bisa membuka mata dan membuat keputusan yang adil? Moya sendiri berpendapat, “Hidup tidak selamanya adil, tapi sebenarnya bukan masalah adil atau tidak, namun masalah norma-norma masyarakat dalam menimbang keadilan.” (hlm. 7)

Singkat cerita, novel Warisan ini penuh dengan inspirasi feminisme. Banyak hal dibongkar dengan retorika yang membangkitkan emosi pembaca. Mulai dari hak memperolah pendidikan—dalam hal ini Moya benar-benar menaruh perhatian, katanya, “Aku benar-benar percaya pada nilai-nilai pendidikan… Aku ingin agar mereka mandiri, dapat mengurus diri sendiri tanpa tergantung kepada siapa pun.” (hlm. 57)—sampai dengan hak-hak lainnya, khususnya soal warisan. 

Sebagaimana dalam cerita pada film Suffragette (2015), Warisan pun menyuarakan perjuangan kaum perempuan, dari penindasan “maskulinitas” dalam artian laki-laki itu sendiri ataupun lembaga maupun institusi, dengan titik berat kepada problem sosiologis di masyarakatnya, Moya berharap ada perubahaan tidak hanya baginya tetapi bagi setiap perempuan di setiap rumah. Memperbaiki kehidupan masing-masing merupakan hak setiap manusia. Itulah suara yang hendak didengungkan.

Adat yang menyengsarakan, itulah yang hendak digugat oleh Moya. Adakah masih relevan novel semisal ini? Tentus aja, bahkan, sekalipun novel ini terbit 1996 (terjemahan bahasa Indonesia, terbitan YOI) tetapi semangatnya, dan ide besarnya masih sangat terasa menginspirasi. Aku pikir, siapapun yang membaca karya dari penulis asal benua Afrika ini akan terbuka matanya untuk adil dalam segala hal—jika meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer—bahkan sejak dalam pikiran.

Siapa saja akan lebih menghargai jerih payah siapapun, termasuk dirinya sendiri. Dan terkait keputusan hakim dalam cerita ini, sungguh sangat layak dijadikan cerminan hukum di negeri ini. Novel yang sangat bagus, dengan ketebalan yang hanya 118 halaman, isinya betul-betul menggambarkan kekuatan perempuan. Tentu saja ini novel dewasa, diperlukan pula kedewasaan pikiran dan keterbukaan pemikiran. Semuanya bukan hanya untuk kebebasan yang kebablasan, semua untuk keadilan dan kemerdekaan. Terima kasih Tsitsi V. Himunyanga – Phiri telah menulis novel brilian ini. 
[] 

IDENTITAS BUKU
Judul Terjemahan Warisan
Judul Asli The Legacy
Penulis Tsitsi V. Himunyanga - Phiri
Penerjemah Budi Darma
Penerbit Yayasan Pustaka Obor
Tahun Terbit 1996, 118 halaman
ISBN 979-461-230-8     

3 komentar:

  1. Wah, aku baru tau buku ini. Bisa ditambahakan identitas bukunya, seperti; penerbit, ISBN, dll :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya lupa. Sudah ditambahkan.
      Aku juga baru saja selesai membacanya. :)

      Hapus
  2. dapet referensi baru buat beli buku, makasih ya :D

    salam
    nia

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire