Jumat, 03 Maret 2017

Of Mice and Men: Tikus dan Manusia oleh John Steinbeck

Sampul Novela Of Mice and Men by John Steinbeck (Dok. Pribadi)



Suara George menjadi lebih dalam. Ia mengulangi

kata-katanya dengan berirama, seolah ia sudah begitu sering

mengucapkan kata-kata ini. "Orang-orang seperti kita, yang

bekerja di peternakan, adalah orang-orang paling kesepian

di dunia. Mereka tidak punya keluarga. Mereka tidak cocok

di tempat mana pun. Mereka datang ke peternakan dan

bekerja keras lalu pergi ke kota dan menghamburkan hasil

kerja keras mereka, lalu setelahnya mereka banting tulang

lagi di peternakan lain. Mereka tidak punya cita-cita."


(hlm. 23)

***

Setelah Perang Dunia I, gejolak ekonomi dan ekologi yang dialami Amerika memberikan dorongan pada petani migran dari pedesaan yang miskin di beberapa negara bagian untuk mencoba peruntungan ke wilayah California. Dan apa yang diangkat oleh John Steinbeck dalam Of Mice and Men ini tidak lepas dari era depresi besar yang melanda Amerika saat itu.


Syahdan, buku ini—yang lebih tepat disebut novela daripada novel—memang menawarkan kisah yang kontroversial tentang persahabatan dan tragedi pada masa-masa Depresi Besar di Amerika. Sang Narator, dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu mengisahkan perjalanan sepasang sahabat bernama Lennie dan George. Sejak awal, pembaca bisa tahu bahwa keduanya bukan pasangan yang lazim. George bertubuh kecil, sedangkan Lennie berbadan besar dan kondisi mentalnya agak kurang—yang dalam kata-kata George, “… dia tidak bisa berpikir sendiri, tapi dia jelas bisa terima perintah. … Dia bodoh setengah mati, tapi dia tidak gila. (hlm. 56)


 Iya, Lennie memang tokoh yang sangat unik, selain pikirannya seperti anak kecil, Lennie pun gemar sekali mengelus, apalagi yang halus-halus. Nahasnya, Lennie tidak bisa mengontrol kekuatannya jika menyentuh sesuatu yang lembut. Ia selalu ingin menggenggamnya, sulit untuk melepaskannya. Dan saat bus yang seharusnya mengantarkan mereka ke Soledad, California—dengan latar waktu sekitar tahun 1930-an, menurunkan mereka di sebuah jalan, George menyadari bahwa Lennie membuat ulah. Dia ternyata menyimpan tikus mati di saku pakaiannya. Perselisihan pun terjadi antar keduanya, sampai kemudian, sekalipun Lennie mudah lupa, pada dasarnya ia selalu ingat apa yang dikatakan oleh George. Dan mereka tidak berakhir sebagaimana berakhirnya mereka yang tidak punya cita-cita. Kita tidak seperti itu. Kita punya masa depan. (hlm. 23) Begitulah buaian George kepada Lennie.


Setelah membuat kesepakatan—agar sesuatu di Weed tidak terulang, dan menghabiskan malam di sebuah tempat sambil memandang langit, keduanya menikmati suasana, dan keesokan harinya mereka mulai memasuki peternakan baru. Dan begitu pun yang terjadi dengan petani migran lainnya. Di tempat yang baru itu, cerita semakin asyik karena bermunculan tokoh-tokoh yang tidak kalah khasnya, dan semuanya itu benar-benar menghadirkan simbol-simbol yang mendalam maknanya—yang sepertinya, sengaja dilakukan oleh John Steinbeck.


Mulai dari Si Bos yang menyindir George agar jangan menjadi rekan dan pegawai yang licik. Ada Slim Si Sais Kuda. Ada Candy Si Tukang yang Tua, yang kehilangan salah satu tangannya dan memiliki seekor anjing yang sudah berusia lanjut. Ada Curley, anaknya Si Bos. Ada Carlson tukang di peternakan. Ada Istrinya Curley. Ada Crooks—seorang negro. Ada Whit seorang tukang. Dan ada juga Clara, bibinya Lennie. Dari sekian tokoh yang muncul dalam novelet ini, menurutku tokoh utamanya berpusat pada George, Lennie, Candy, dan Istri-nya Curley. 


            Dengan pengambilan sudut pandang orang ketiga serba tahu itu, pembaca memang jadi lebih dapat melihat dengan “apa adanya” setiap karakter yang ada dan bersuara serta bertindak itu. Apa yang kemudian terjadi di peternakan yang baru itu?


            George tetap yakin pada buaian yang seringkali diceritakan kepada Lennie, dan Lennie selalu percaya pada kata-kata George. Dan selepas tragedi pengakhiran hidup seekor anjing tua. Candy pun mengalami suatu keputusasaan dan kesepiaan yang tiada terperi, Candy sempat tidak mau bicara sampai akhirnya, dia berkata kepada George dan Lennie, Kaulihat apa yang mereka lakukan pada anjingku? Mereka bilang dia tidak berguna untuk dirinya sendiri atau orang lain. Nanti kalau mereka pecat aku, aku harap seseorang akan menembakku. (hlm. 83) Carlson yang mengakhiri anjing tua itu sempat berkata pada Candy bahwa dia akan melakukannya dengan baik sampai-sampai si anjing tua itu tidak akan merasakan rasa sakit. Di sini, pada dasarnya, ada suatu isu tentang “etika euthanasia.”


            Lantas Candy mulai tertarik juga dengan buaian yang penuh harapan dan bagai mimpi “Besar Amerika” itu, yakni agar dapat menjadi tuan atas tanah sendiri. Agar bisa bebas bisa melihat karnaval, sirkus, ataupun pertandingan bola. Dan itu diungkapkan dengan sangat membius oleh George kepada Lennie dan Candy, Kita tidak akan tanya  orang lain apakah kita bisa. Bilang saja, ‘Kita akan pergi ke tanah itu,’ dan kita akan pergi. (hlm. 83)


            Setelah insiden remuknya tangan Curley oleh Lennie. Ada suatu momen di mana Lennie berkunjung ke kamar—yang lebih tepatnya disebut ruang isolasi—milik Crooks, yang merupakan seorang negro. Melalui tokoh Crooks ini John Steinbeck jelas memberikan tempat yang spesial, di mana tokoh negro dalam Of Mice and Men ini punya peluang bersuara yang cukup leluasa, sekalipun pada akhirnya dan pada saat itu, negro tetaplah negro yang dijauhkan dari masyarakat—yang mayoritas berkulit putih. Ini tentu berbeda dengan Harper Lee, John Steinbeck membiarkan Si Negro berbicara. Dan Crooks pun tidak menyia-nyiakan ruang yang diberikan, dia mengeluarkan kegelisahannya yang mengandung banyak nilai yang brilian, katanya, Orang butuh orang lain. Orang akan sinting kalau tidak ada teman. Tidak ada bedanya siapa temannya itu, selama dia bersamanya. … orang bisa terlalu kesepian dan jadi sakit. (hlm. 98)


            Itulah suara kesepian dari rasa sakit diasingkan. Digambarkan di dalam cerita ini, Crooks pria yang suka membaca buku, dia mengatakan kepada Lennie soal mimpi yang ditawarkan George, bahwa itu semua hanya ilusi. Iya, sekalipun harapan itu ada, namun Crooks mencoba realistis, bahwa masyarakat yang seperti “ini” memang sudah seperti “itu” adanya.


            Kemudian, kejadian di Weed terulang kembali. Ini jelas bukan kesengajaan, sekalipun itu nyata terjadi. Lennie jelas bingung, dan hanya ingat pesan yang telah disepakati olehnya dengan George. Dan sesuatu yang tragis dan sentimentil pun tercipta. Sampai-sampai aku berdecak kagum, bahwa sebuah kisah dalam buku yang disebut “novel” dapat memberi dampak bukan karena tebalnya, yang tipis semisal Of Mice and Men pun dapat memberikan efek yang mendalam. 


                Aku rasa, ini bacaan klasik yang sangat perlu, dan masih layak dibaca oleh zaman kita, karena cerita ini kaya dengan simbol dan nilai-nilai—sekalipun memang kesannya jadi agak moralistik. Bahkan “Tikus” yang muncul pada judul, sekalipun tidak banyak dibahas di dalam cerita adalah sebuah simbol tersendiri, bahkan seluruh hewan yang ada di dalam cerita, kartu soliter dan sepatu Curley pun memiliki maknanya tersendiri. Tetapi jangan khawatir, secara umum bahasa yang digunakan mudah dipahami, alurnya mengalir, tidak terlalu cepat untuk ukuran novela, tapi tidak juga terlalu lambat. Dan asyiknya lagi, saat menarasikan latar tempat, bagiku John Steinbeck cukup piawai. Sehingga memberikan oase tersendiri di tengah padang dialog dan peran yang dramatik.


            Tikus dan Manusia, sebuah cerita yang mengolah tema abadi yang menggelisahkan dan perlu direnungkan berupa kesepian dan kesendirian, kekuatan dan kelemahan, relasi antar manusia, persahabatan di kalangan pria, persaingan, mimpi, takdir, pernikahan dan kebijaksanaan hidup. Namun begitu, sekalipun ada istilah “manusia”, apa yang nampak memang cenderung maskulin, suara perempuan tidak keluar secara maksimal, sekalipun ada upaya ke arah pembebasan pula. 


            Pada akhirnya, Crooks benar, bahwa “Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan orang lain.” (hlm. 97) termasuk soal takdir. Tetapi apakah benar bahwa "surga" yang semisal “koletivisme” itu tidak ada, dan hanya angan-angan dalam kepala?  John Steinbeck memang tidak memberikan jawaban atas segala pertanyaan dalam karya fiksinya ini, tetapi dalam Of Mice and Men terlihat bahwa John Steinbeck penulis yang peduli dengan yang namanya manusia. Tidakkah kita pun tertarik membacanya pula, sebagai bagian dari manusia? Adapun secara teknis, memang masih ditemui beberapa kesalahan ketik pada novel pendek ini, tetapi itu tidak menggangu sama sekali. []



IDENTITAS BUKU

Judul: Asli Of Mice and Men

Judul Terjemahan: Tikus dan Manusia

Penulis: John Steinbeck

Alih Bahasa: Ariyantri E. Tarman

Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama

144 halaman, tahun 2017

ISBN 978-602-03-3781-4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire