Jumat, 26 Mei 2017

Si Bejat yang Ahli Surga, Kafir Lembut yang Masuk Surga

Topeng Tertua di Dunia. (sumber: di sini)
Inti agama adalah nasihat, begitu kata Rasulullah.

Dalam sebuah buku, yang berjudul Si Bejat yang Ahli Surga (ditulis oleh As'ad Muhammad), bahwa bukan soal ketaatan dan kemaksiatan yang dapat dilihat oleh mata manusia sajalah yang dapat mengantarkan seseorang ke surga ataupun nereka. Lalu apa?

 

Singkat cerita dalam buku tersebut tertulis sebuah kisah seorang yang taat ibadah melewati wilayah para ahli maksiat. Salah seorang yang suka maksiat itu berdiri dan mencoba berjalan menghampiri orang saleh--yang "terlihat" saleh itu--sambil berniat dalam hatinya, "Ya Allah, mudah-mudahan dengan mendekati orang saleh, aku akan mendapatkan hidayah-Mu." Begitu kurang lebih niatnya. Sayangnya, orang yang kelihatan saleh itu malah menjauh setelah melihat ada yang mau mendekatinya. Dalam hatinya terbersit bahwa dirinya lebih suci daripada orang itu. Kesombongan telah menggelapkan matanya. Pendek cerita, pada waktu itu, malaikat diperintahkan untuk memasukkan orang "saleh" itu ke neraka dan memberikan hidayah kepada yang suka maksiat itu sehingga masuk ke dalam surga-Nya.

Boleh saja seseorang menganggap kisah tersebut mengada-ngada ataupun hanya riwayat israeliyat. Tetapi, nalar yang sehat akan dapat mengolah informasi itu dan memetik maksud yang terkandung di dalamnya. Bahwa kesombongan, itu sungguh sifat yang buruk. Ibnu Taimiyyah, yang digelari Syaikhul Islam menganjurkan kita agar memiliki sifat rendah hati (Almustadrak a'la majmu fatawa), menghindari kesombongan karena itu kadang lebih buruk daripada perilaku kaum musyrik pada masa jahiliyah, di antara mereka ada yang menyembah Allah sekaligus menyembah berhala, tetapi hanya orang sombong yang tidak mau menyembah sama sekali.

Di lain kesempatan, Rasulullah pernah berpesan, "Hendaknya engkau bersikap lembut, jauhlah sikap keras dan kekejian." Termasuk juga perintah agar jangan marah. Bukan hanya jangan gampang marah, tetapi jangan marah. Dengan kata lain, ada baiknya kita tidak hanya memperhatikan apa yang masuk ke dalam mulut kita, sekaligus apa yang keluar dari mulut itu, janganlah sama dengan apa yang keluar dari dubur.

Seandainya saja, seorang kafir--dalam penglihatan mata kita--lembut dapat masuk surga atas kehendak Allah, mengapa yang muslim--terlihatnya--tidak mampu untuk bersikap lemah lembut, dan berdakwah dengan cara yang patut? Jadilah muslim yang bahagia, yang ciri-cirinya menurut Ibnu Khaldun, mengikuti garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan."

Bukan rahasia lagi, kalau Rasulullah adabnya sangat luhur, termasuk kepada non-muslim, yang hidup berdampingan. Tidak semua harus dilawan. Benar memang, kalau ingin damai harus siap jihad. Tetapi jihad dalam konteks perang bukanlah hukum yang asal-asalan, ada aturannya. Tidak main membom diri sendiri di sembarang tempat pada sembarang target. Pembunuhan tidak sama dengan perjuangan!

Mudah-mudahan kita bisa lebih baik, dan makin baik dalam mengerjakan segala hal-hal yang baik bagi diri sendiri, dan bagi sesama manusia. Mudah-mudahan kita tidak sekadar menjadi Islam sebagai topeng melegalkan perbuatan yang sewenang-wenang, mudah-mudahan Islam menjadi pakaian jiwa yang menenangkan diri dan sesama kita.

Amin.

[]

1 komentar:

  1. memang kesmbongan hal yang sulit dihindari,,apalagi dizaman semakin maju,orang berlomba lomba "memamerkan" jabatan,harta,dan lain lain ...


    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire