Rabu, 02 Agustus 2017

SOME by Mayang Aeni

CINTA, PERSAHABATAN DAN KEBETULAN-KEBETULAN YANG MENGIKATNYA


SOME By Mayang Aeni. Dok Pribadi

Blurb


            Beda tak berarti sama. Seperti kopi dan teh. Keduanya jelas minuman yang berbeda, baik dari warna maupun rasa, tetapi keduanya sama-sama mengandung kafein dan ditanam di dataran tinggi.

            Begitu juga Tara dan Alvan. Mereka berbeda, tapi bagaikan magnet, meskipun berbeda kutub tapi mereka saling tarik-menarik. Alvan yakin satu hal: they will be a really, really good friends.

            Tara merasa Alvan perhatian dan baik banget, tapi Tara yakin Alvan hanya menganggapnya sebagai teman.

            Teman, tapi bawain bekal setiap hari. Temen, tapi rela nganterin pulang ke rumahnya yang super jauh. Teman, tapi cemburu.

            Jadi, mereka ini sebenarnya apa?



***



SOME

By Mayang Aeni

Editor: M. L. Anindya Larasati

Terbitan PT. Elex Media Komputindo, 2017

382 halaman, ISBN 978-602-02-9920-4



            Apa yang biasanya menarik dari tahun ajaran baru? Iya! Pembagian kelas yang baru. Kita pasti berharap sekelas lagi dengan teman-teman yang awalnya satu kelas, kita pasti mengharapkan tidak ada pemisahaan dan pergantian teman duduk, karena menjalin pertemanan itu enggak gampang apalagi memulainya dari nol. Itu pula yang terjadi dengan gengnya Alvan P. Permana—biasa disapa Al ataupun Van. Tetapi, kadang ada saja kejadian menarik di tengah kejadian yang bisa dibilang pelik—kenapa pelik? Karena Alvan sekelas dengan mantan kekasihnya—Ify, yang harus putus, tetapi sampai sekian waktu tidak ada yang tahu pasti apa alasannya, termasuk Alvan sendiri. Itu pasti tidak menyenangkan, ya? Bikin kaku, dan jadi seperti ada jarak dalam ruang yang sama-sama mereka tempati. Tetapi, “Bukan salah Alvan karena dia tidak mengenal Tara meskipun mereka merupakan teman seangkatan selama dua tahun. Bukan salah Tara juga karena dia menjadi tipe orang yang tidak terlalu suka bergaul sehingga Alvan tidak mengenalnya.” (hlm. 21)


            Apakah itu masalahnya? Tidak. Ada kejadian unik lainnya yang membuat seorang Alvan yang awalnya selalu realistis—secara dia cowok yang paling diidam-idamkan ibu hamil anak-anak sesekolahannya. Kejadian apa? Pertemuan tak terduga di ruang UKS, dengan seorang cewek yang selama dua tahun sebelumnya belum pernah Alvan kenal ataupun tahu namanya. Dipikir cewek itu adik kelasnya. Ternyata… SEKELAS dengan Alvan! Tidak hanya itu, cewek yang ditemui dengan anggapan yang kurang mengenakkan itu rupanya teman dari salah satu gengnya, dan berkawan juga dengan mantannya—Ify. Duh Alvan, kadang memang begitu sih ya, yang terkenal memang yang biasanya dikenal, sedangkan yang enggak terkenal iya… wajar saja kadang sekian tahun sesekolahan ada yang sampai enggak tahu nama satu sama lainnya.


            Mengetahui kenyataan tersebut, membuat Alvan enggak enak hati, penasaran, tetapi juga khawatir bahwa upayanya untuk tahu lebih jauh akan berbuntut hal yang enggak enak. Apalagi melihat cewek yang dianggap adik kelasnya itu yang cenderung dingin, dan seolah-olah mirip tembok berlin sebelum runtuh, menjadikannya ragu. Tapi daripada garing karena teman duduknya belum masuk karena sakit. Alvan pun memberanikan diri untuk memulai perkenalan yang lebih layak, tidak seperti di ruang UKS. 


            Pucuk dicinta ulam pun tiba, seseorang menyebut nama cewek itu. Alvan pun menggumamkan namanya… Oh cewek itu namanya Tara.


            Apakah segala yang dimulai dengan penasaran berujung pada perasaan? Tidak selalu. Hanya saja, sejak saat itu, mulailah terjadi kejadian-kejadian yang mungkin mirip kebetulan-kebetulan yang dirasa janggal, tetapi tidak mustahil. Karena “…Tuhan selalu punya rencana di balik sebuah ‘kebetulan’.” (hlm. 66)


***


            Ini adalah novel pertama karya Mayang Aeni yang saya baca, dan saya suka—terlebih, soal tema persahabatan di dalamnya, sangat asyik, cair, dan mengingatkan saya kepada masa-masanya putih abu-abu, beberapa kali saya tergelak tawa akibat dari kekonyolan yang seru dari geng-nya Alvan. Walau begitu, kisah antara Alvan-Tara-Ify-Alea ataupun Tara-Gio-Alvan  juga ngegemesin, sekalipun kadang kita selalu bilang kalau cinta saat masa sekolah adalah cinta monyet belaka. Padahal… cinta tidak mengenal sifa-sifat kehewanan, cinta adalah cinta itu sendiri… 


                Sebagai pembaca yang bukan kanak lagi, saya cukup menikmati alur ceritanya. Kisah-kasih asmara yang tarik-ulur, dan utamanya soal persahabatan yang solid, persaudaraan yang mantap, serta kehangatan bernama keluarga. Saya suka karena beberapa tokoh di dalamnya memiliki ikatan batin yang kuat dengan keluarga. Tetapi, selalu ada yang namanya kelicikan, dan permasalahan yang kadang hanya salah paham, kadang hanya karena kurangnya keberanian untuk memulai. Sekalipun diam itu emas, yang bernilai, tetap saja tidak selalu bisa mengubah keadaan. Sekalipun “Ada yang bilang, cinta itu nggak butuh dengan kata-kata, tapi tindakan. Padahal kata-kata juga merupakan suatu tindakan.” (hlm. 226). Persis seperti kata peribahasa, malu bertanya sesat di jalan, malu bercinta manalah tahu


                Jadi, mereka ini sebenarnya apa? Ada duka, ada suka. Jawabannya, bacalah cerita SOME-nya.

2 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire